Ingin Wujudkan Swasembada Susu, Jatim Butuh 30 Ribu Ekor Sapi

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyebut Jawa Timur masih membutuhkan 30.000 ekor sapi untuk bisa mewujudkan swasembada susu.

Ingin Wujudkan Swasembada Susu, Jatim Butuh 30 Ribu Ekor Sapi
surabaya.tribunnews.com/fatimatuz zahro
Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke industri penghasil susu, Greefields Indonesia, di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Kamis (5/12/2019). 

SURYA.co.id | KOTA BATU - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyebut Jawa Timur masih membutuhkan 30.000 ekor sapi untuk bisa mewujudkan swasembada susu. Hal ini menyusul Jawa Timur yang masih mengimpor sebanyak 217.000 ton susu per tahun.

Menurutnya, saat ini Pemprov Jawa Timur tengah mendorong produksi peternakan sapi perah menanggapi tantangan perdagangan strategis ke depan sehingga pertumbuhan peternakan sapi perah butuh didorong lebih keras.

"Kemarin, kami melakukan misi datang ke Kalimantan Timur, provinsi yang menjadi calon ibu kota negara kita nanti. Kebutuhan besarnya di Kaltim antara lain adalah makanan olahan dan minuman," kata Khofifah, saat berkunjung ke Greefields Indonesia di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Kamis (5/12/2019).

Di peternakan yang memiliki 7.400 ekor sapi perah ini, Greenfields mampu menghasilkan 225 ton liter susu segar per hari. Industri ini selain memproduksi susu kemasan untuk pasar dalam negeri juga menjual produk untuk dikirim ke luar negeri, khususnya pasar Asia.

Lebih lanjut disampaikan Khofifah swasembada susu ini penting. Dan mengembangkan sektor industri susu untuk memasok wilayah lain juga tak kalah menjanjikan. Lantaran ada potensi perdagangan besar bagi Jawa Timur khususnya nanti ketika ibu kota Indonesia sudah pindah ke Kalimantan Timur.

Maka Jawa Timur diyakini Khofifah akan menjadi provinsi strategis untuk bisa memasok kebutuhan di ibu kota baru. Sebab saat ini saja kebutuhan logistik di Balikpapan sebanyak 80 persennya dipasok oleh Jawa Timur. Tentunya kelak berpotensi meningkat jika sudah ada 1,5 juta penduduk yang bertambah ke Kaltim jika ibu kota sudah benar pindah.

'Kita melihat saja sekarang kebutuhan susu untuk Jawa Timur rupanya untuk bisa swasembada susu kita masih butuh 30.000 ekor sapi lagi dengan kapasitas produksi sehari minimal 20 liter," urai Khofifah.

"Maka bolehlah titik-titik mana yang memungkinkan bisa memaksimalkan budidaya sapi perah, termasuk Greenfield ini, bisa dikembangkan lagi. Tentu kita berharap pada mereka agar berinvestasilah kembali, perluas budidaya sapi perah," imbuh wanita yang juga mantan Mensos RI ini.

Ia mendorong sektor industri memaksimalkan upaya pemenuhan kebutuhan susu terutama Jawa Timur. Bahkan kalau bisa meluas lagi untuk pemenuhan kebutuhan Indonesia yang saat ini 80 persennya masih ditopang susu impor.

Apalagi untuk potensi jika Kalimantan Timur sudah tahap pembangunan di ibu kota baru pasti kebutuhan logistik termasuk makanan minuman akan meningkat signifikan.

"Kita ingin membangun penguatan hubungan dagang di antara semua provinsi di Indonesia. Di Kaltim kemarin adalah misi dagang terakhir di tahun 2019. Dan dalam 5 kali misi dagang kita sudah mencapai Rp 2,86 triliun," tegas Khofifah.

Di sisi lain Direktur Greenfields Indonesia Heru Prabowo mengatakan selain di Ngajum, industri susu serupa juga dibangun di Wlingi Kabupaten Blitar. Bahkan di Wlingi peternakan sapi perah untuk industri susu segar di sana lebih canggih.

"Kalau di sini kita ada 7.400 ekor sapi penghasil susu. Perhari produksinya 225 ton susu segar. Selain itu kami juga memiliki mitra peternak lokal. Sebanyak 1800 ekor. Kami menyiapkan pakan, memberkkan service kseahatan dan penyuluhan, hasil susunya kami ambil," katanya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved