Sambang Kampung

Ibu-ibu RT 2 RW 4 Manyar Sabrangan Surabaya Manfaatkan Limbah Cuci Beras untuk Pupuk Cair

Di tangan ibu-ibu RT 2 RW 4 Kelurahan Manyar Sabrangan, Mulyorejo Kota Surabaya, limbah cucian beras berubah menjadi pupuk cair.

Ibu-ibu RT 2 RW 4 Manyar Sabrangan Surabaya Manfaatkan Limbah Cuci Beras untuk Pupuk Cair
surya.co.id/sulvi soviana
Warga kampung memilah sampah untuk dijadikan kompos dan pupuk cair. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Air bekas mencuci beras untuk nasi biasanya dibuang begitu saja.

Di tangan ibu-ibu RT 2 RW 4 Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo Kota Surabaya, limbah cucian beras berubah menjadi pupuk cair.

Sejak awal tahun, warga kampung mulai giat melakukan penghijauan dan mengatur ulang kerapian taman di lingkungan mereka.

Sebagai pelengkap, warga juga mulai membut pupuk cair dari fermentasi rendaman air cucian beras. Serta kompos dari maknan sisa rumah tangga.

Norma Widiasafitri, koordinator pupuk dan tanaman di kampung yang berisi 30 Kepala Keluarga ini mengungkapkan ia secara otodidak mempelajari pembuatan pupuk cair melalui pelatihan dari fasilittor kelurahan juga lewat youtube.

"Saya lihat pembuatannya mudah, sayangnya nggak banyak ibu-ibu di sini yang masak sendiri. Jadinya saya minta air cucian beras waktu ada hajatan warga," ujarnya.

Selain air cucian beras hajatan warga, Norma secara berkala juga meminta air cucian beras dari pedagang nasi goreng.

Serta kulit sayuran yang dibuang untuk dijadikan kompos.

"Kalau dari penjual nasi goreng, tiga hari saja sudah penuh satu galon. Nanti didiamkan seminggu baru bisa digunakan untuk tanaman,"urainya.

Selain itu ada 10 KK yang juga memiliki takakura, semacam komposter sederhana yang digunakan untuk menyimpan sampah sisa makanan untuk jadi kompos.

"Karena jarang ada makanan sisa di kampung ini, paling setahun baru bisa jadi komposnya. Ini saja mengering karena cuaca Surabaya cukup panas," urainya.

Sri Utami, warga kampung mengungkapkan dengan membuat pupuk sendiri warga bisa lebih berhemat dan memanfaatkan makanan sisa.

Sehingga warga tidak perlu membeli berbagai kebutuhan dalam merawat tanamannya.

"Jadi praktis, nggak ngeluh harus nanam bagimana. Apalagibkami nanamnya tanaman seserhana yang mudah dibiakkan," pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved