Berita Surabaya

Alasan Komplotan Pembobol Kartu Kredit di Surabaya Sering Kali Menyasar Warga Sejumlah Negara Eropa

Belasan pelaku spammer (pembobolan kartu kredit) dirilis polisi di Ruang Subdit V Siber Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Rabu (4/12/2019).

Alasan Komplotan Pembobol Kartu Kredit di Surabaya Sering Kali Menyasar Warga Sejumlah Negara Eropa
surya.co.id/luhur pambudi
Belasan pelaku spammer (pembobolan kartu kredit) dirilis polisi di Ruang Subdit V Siber Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Rabu (4/12/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Komplotan hacker spamming yang diringkus Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim ternyata kerap menyasar kartu kredit warga sejumlah negara Eropa.

Mereka beralasan warga negara Eropa enggan memperkarakan jika kartu kreditnya terbobol.

Penyebabnya sistem perbankan di Eropa disebutkan akan mengganti setiap transaksi yang ditidak diketahui pihak nasabah.

Video terkait:

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Cecep Susatiya membenarkan, sebagian besar korbannya adalah orang yang tinggal di beberapa negara di kawasan Eropa.

"Kebanyakan data kartu kredut Eropa. Alasannya, karena sistem perbankan di sana," katanya pada awakmedia di Lantai 2 Ruang Subdit V Siber Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Rabu (4/12/2019).

Ternyata mekanisme perbankan di negara-negara Eropa ada kebijakan untuk mengembalikan sejumlah uang milik nasabahnya yang terpotong akibat transaksi yang tidak diketahui pihak nasabah.

"Informasinya, bila nasabah yang punya kartu kredit mengklaim tidak melakukan transaksi sesuatu, pihak bank punya kewajiban merefund dana yang keluar dari nasabah," jelasnya.

Artinya, para nasabah yang menjadi korban spamming data kartu kredit oleh komplotan tersebut cenderung tidak memperkarakan hal tersebut hingga berlarut-larut.

"Jadi mereka merasa tidak ada yang dirugikan," tuturnya.

Kendati begitu, lanjut Cecep, pihaknya tidak bisa membenarkan perbuatan para komplotan tersebut.

Pasalnya komplotan tersebut meraup untung dengan cara illegal hingga menimbulkan keruguian pada pihak lain.

"Tapi UU ITE tidak melihat disitu, tapi kami melihat metode curang yang digunakan di dunia maya," pungkasnya.

Akibat perbuatannya mereka bakal dikenai UU ITE, yakni Pasal 30 ayat (2), Pasal 46 ayat (2), Pasal 32 ayat (1), dan Pasal (48) ayat (1), dengan ancaman delapan tahun kurungan penjara.

Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved