Berita Surabaya

Bappeko Surabaya akan Libatkan Disabilitas dalam Program Pembangunan 

Eri menjamin hak-hak dasar kelompok disabilitas di Surabaya, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Bappeko Surabaya akan Libatkan Disabilitas dalam Program Pembangunan 
surya.co.id/nuraini faiq
Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi saat menemani Wali Kota Tri Rismaharini dalam sebuah kegiatan. 

SURYA.coid |SURABAYA - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi akan melibatkan kaum disabilitas dalam penyusunan program pembangunan di Kota Surabaya.

Terutama menyangkut pembangunan fasilitas publik agar lebih ramah disabilitas

 "Ke depan kami harus melibatkan teman difabel langsung dalam penentukan aspek dan program pembangunan di kota ini. Terutama yang terkait dengan fasilifas publik dan akses jalan umum,” kata Eri, Selasa (3/12/2019).

Mantan Kepala Dinas Cipta Karya Kota Surabaya ini merespons kritik yang disampaikan para penyandang disabilitas di Surabaya.

Eri menjamin hak-hak dasar kelompok disabilitas di Surabaya, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. 

 “Terkait fasilitas bagi teman difabel, segera saya koordinasikan dengan teman-teman di Cipta Karya. Juga Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH)," kata Eri. 

Eri menegaskan bahwa Surabaya adalah kota inklusi. Dalam setiap pembangunan gedung baru, akses bagi teman difabel selalu masuk dalam spek pembangunannya. 

Dalam rencana pembangunan Gelora Bung Tomo (GBT) , pihaknya bahkan akan menyiapkan sektor khusus bagi suporter difabel.

Sepak bola menjunjung tinggi kesetaraan. Aneh jika di stadion teman difabel tak bisa ikut mendukung tim kesayangannya. 

Dalam rangka Hari Disabilitas dunia pendiri Disable Motorcycle Indonesia (DMI) Abdul Syakur menyebut perhatian Pemkot Surabaya terhadap kaum disabilitas belum maksimal. 

 "Kemiringan trotoar terlalu tinggi. Warna Ubin Braille di trotoar harusnya dengan warna mencolok karena ada di antara kami yang masih bisa melihat tapi terbatas," kata  Syakur.

Fitriya dari Forum Komunikasi Orang Tua Anak Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Surabaya juga menyinggung layanan disabilitas di Surabaya belum optimal.

Sekolah bagi siswa inklusi di Surabaya juga terbatas. 

Dikatakan Fitriya bahwa penyelenggara inklusi belum welcome dengan shadow teacher alias guru pendamping dari luar.

Selain itu ditemukan kekurangan perangkat pembelajaran, hingga evaluasi yang belum maksimal.  

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved