Pidana Berat Saja Tidak Cukup Bagi Pelaku Asusila Terhadap Anak

Dua kasus asusila terhadap anak di Kabupaten Bangkalan menyita perhatian Staf Pengajar di Departmen Hukum Pidana Fakultas Hukum UTM.

Pidana Berat Saja Tidak Cukup Bagi Pelaku Asusila Terhadap Anak
surya.co.id/sri wahyunik
Suasana demo ratusan mahasiswa Universitas Jember merespons dugaan perbuatan asusila terhadap seorang mahasiswi oleh oknum dosen, Kamis (2/5/2019). 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Dua kasus asusila terhadap anak di Kabupaten Bangkalan menyita perhatian Staf Pengajar di Departmen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr Rusmilawati Windari, SH, MH.

Menurutnya, dalam konteks penanggulangan kejahatan, penanggulangan represif dengan serangkaian aturan yang mengatur pengenaan pidana berat tentu saja tidaklah cukup.

"Bagaimanapun penanggulangan secara represif perlu dilengkapi dengan penanggulangan preventif. Yakni dengan serangkaian upaya non-penal lainnya," ungkapnya kepada Surya.

Ia menjelaskan, kepedulian terhadap kasus kekerasan seksual pada anak bukan sekadar dengan merasa kasihan kepada korban, mengecam tindakan pelaku, dan menghukum pelaku dengan sanksi seberat-beratnya.

"Perlu ditempuh upaya-upaya lain secara strategis guna menciptakan kondisi dan situasi yang tidak hanya ramah anak, namun juga aman bagi anak," jelasnya.

Guru SD di Bangkalan Cabuli Siswa Kelas I Hingga Dua Kali, Sempat Beri Imbalan Rp 2.000

Seperti diketahui, Polres Bangkalan menangkap oknum guru PNS, NYN (58), warga Desa Tengket Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan karena dua kali mencabuli siswi kelas I berinisial IND (7) pada 23 Nopember 2019 dan 25 Nopember 2019.

Agustus 2019, bocah berusia 14 tahun menjadi korban pemerkosaan secara bergiliran oleh dua remaja di sebuah perkebunan di Desa Mangga'an Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan.

Salah seorang pelakunya, WBS masih berusia 18 tahun. Ia dijebloskan ke tahanan Mapolres Bangkalan. Sedangkan temannya ditetapkan sebagai DPO.

Rusmilawati memaparkan, guru, pengurus sekolah, orang tua termasuk keluarga, masyarakat sekitar juga perlu diberikan pemahaman secara tepat tentang perlindungan anak, bahaya-bahaya yang mengancam anak, aturan hukum yang berlaku, cara mencegah, merespon, dan menangani kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungannya.

Bahkan, lanjutnya, pendidikan karakter dan berbagai penyuluhan yang dapat membangkitkan kesadaran sosial akan persoalan ini perlu dilakukan secara berkala.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved