Berita Surabaya

Kasus Dugaan Kerusuhan Asrama Papua, Dua Polisi Bersaksi untuk Mantan Anggota Satpol PP

Tiga terdakwa kasus dugaan kerusuhan Asrama Papua di Surabaya kembali menjalani persidangan di PN Surabaya, Senin (2/12/2019).

Kasus Dugaan Kerusuhan Asrama Papua, Dua Polisi Bersaksi untuk Mantan Anggota Satpol PP
surya.co.id/samsul arifin
Sidang dengan terdakwa Syamsul Arifin¬† beragendakan keterangan saksi dari Polda Jatim di Ruang Cakra, PN Surabaya, Senin (2/12/2019).¬† 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tiga terdakwa kasus dugaan kerusuhan Asrama Papua di Surabaya kembali menjalani persidangan di PN Surabaya, Senin (2/12/2019).

Dua terdakwa yakni Tri Susanti alias Mak Susi dan Andrian Andriansyah ajukan eksepsi. 

Sedangkan sidang terdakwa Syamsul Arifin beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari polisi.

Sidang dimulai atas nama terdakwa Syamsul Arifin yang merupakan mantan anggota satpol PP. 

Empat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim,  yakni Novan A Arianto, Muhammad Nizar, Sabetania Paembonan dan Rista Erna menghadirkan dua saksi.

Mereka adalah Adi Setiawan, anggota Polri yang bertugas di Subdit Cyber Ditreskrimsus Polda Jatim dan Mahfud, anggota Polsek Tambaksari.

Usai diambil sumpahnya, Selanjutnya hakim menawarkan pada JPU dan tim penasehat hukum apakah kedua saksi didengarkan keterangannya secara bersamaan atau sendiri sendiri. 

"Kami harap diperiksa bersamaan," kata JPU Novan Arianto.

"Kami berharap agar kedua saksi diperiksa secara sendiri sendiri," timpal Hisyam Prasetyo Akbar, selaku tim penasehat hukum terdakwa Syamsul Arifin.

Karena adanya perbedaan tersebut, ketua majelis hakim Johanes Hehamony akhirnya memutuskan untuk mendengarkan keterangan saksi secara sendiri sendiri.

"Baik, sesuai dengan hukum acara, kami akan mendengarkan keterangan saksi ini sendiri sendiri,"kata hakim Johannes yang melanjutkan mendengarkan keterangan saksi Adi Setiawan.

"Untuk saksi Mahfud silahkan saudara menunggu di luar ruang sidang ya," pungkas hakim Johannes pada saksi Mahfud.

Terdakwa Syamsul Arifin didakwa melanggar Pasal 45 Ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 4 UU 40/2008 tentang Penghapusan Rasial dan Etnis dan/atau Pasal 160 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan/atau ayat 2 dan/atau Pasal 15 KUHP.

Atas dakwaan tersebut, terdakwa Syamsul Arifin tidak mengajukan eksepsi atau keberatan sehingga proses perkara ini berlanjut ke pembuktian pokok perkara.

Anggota Satpol PP Kecamatan Tambaksari ini diadili karena diduga  melakukan rasisme dengan mengatakan 'Monyet' saat peristiwa kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua pada Jum'at (16/8/2019) lalu.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved