Breaking News:

Hari AIDS International

Buktikan Pengidap HIV/AIDS Bisa Produktif, Tiga ODHA Asal Jatim Kini Hidup Normal

Bagi pengidap HIV/ AIDS, dukungan keluarga maupun lingkungan sangat penting untuk penyembuhan hingga keberlangsungan kehidupannya.

surya.co.id/habibur rohman
Peserta secara bersama melakukan beberapa gerakan senam saat memperingati Hari Aids Sedunia 2019 di area Car Free Day Jl Raya Darmo Surabaya, Minggu (1/12/2019). Kegiatan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Surabaya ini sekaligus kampanye pencegahan IMS & HIV AIDS, serta konsultasi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berkat kemajuan ilmu kedokteran, orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) kini bisa sehat dan menjalani hidup dengan normal.

Tami (45) merupakan salah satu di ODHA di Kota Surabaya yang lebih dari 12 tahun berhasil melawan HIV/ AIDS sekaligus menghadapi stigma negatif dari masyarakat sekitar.

“Saya didiagnosis positif HIV/ AIDS pada 2008,” ujar Tami saat ditemui di kediamannya.

Penyakit HIV/ AIDS yang dideritanya diduga ditularkan oleh suaminya yang merupakan pemakai narkoba jarum suntik.

Suaminya, didiagnosa HIV/ AIDS pada akhir 2007.

Awalnya, ia tidak mengetahui penyakit ‘aneh’ yang diderita suaminya sehingga harus dirawat di instalasi khusus rumah sakit.

Karena penasaran ia mencari informasi mengenai penyebab sakit yang diderita suaminya tersebut.

“Saya baru tahu kalau suami sakit itu (HIV/ AIDS), saya juga harus periksa karena masih punya tanggungan anak-anak,” ucapnya.

Diam-diam ia memberanikan diri melakukan tes HIV/ AIDS, tanpa sepengetahuan suaminya.

Saat itu suaminya sempat mengancamnya supaya tidak melakukan tes HIV AIDS.

Kemungkinan mental suaminya pada waktu itu belum kuat sehingga sempat melarangnya tes HIV/ AIDS.

Ia menjalani tes pertama hingga tiga kali untuk memastikan adanya virus HIV/ AIDS.

Tes keempat kalinya ia tidak lolos, sehingga terbukti positif HIV/ AIDS.

“Saya menangis tidak lama di depan konselor, mungkin ini cobaan saya. Tuhan memberikan penyakit seperti ini harus kuat, karena masih ada anak-anak,” ungkapnya.

Tami bersama keluarganya sempat diperlakukan diskriminatif dan akan diusir masyarakat di lingkungannya.

Namun, ia tetap bertahan meski seringkali dihina saat bertemu orang di jalan rumah tinggalnya.

Kendati demikian justru itu yang membuatnya termotivasi, sehingga harus sehat dan rutin minum obat.

“Kami mau menunjukan kalau saya dan suami masih dapat produktif, bisa menolong sesama (ODHA),” lanjutnya.

Saat ini Tami bersama keluarganya sudah pindah tempat tinggal.

Kini ia berharap di lingkungan barunya dapat diterima tanpa adanya perlakuan diskriminatif.

“Saya tinggal di lingkungan baru lebih nyaman, mungkin karena mereka cuek,” imbuhnya.

Bagi pengidap HIV/ AIDS, dukungan keluarga maupun lingkungan sangat penting untuk penyembuhan hingga keberlangsungan kehidupannya.

“Support keluarga bagi mereka (ODHA) penting! Itu nomor satu, karena apapun juga kalau stigma kita sendiri malah tidak akan menyelesaikan masalah,” ujar Tami.

Tami bersyukur anak-anaknya tidak terpengaruh stigma negatif terhadap pengidap HIV/ AIDS.
Justru selama ini anak-anaknya yang memberikan dukungan penuh agar dapat melawan sakit tersebut.

Beberapa keluarganya yang mengetahui kondisinya juga mendukungnya.

Kini Tami bersama suaminya Tomi (44), menjadi relawan untuk mendampingi para penderita HIV/ AIDS.

“Saya selalu diingatkan sama kakak istilahnya sistem imun saya separo jadi jangan capek-capek. Harus makan ada gizinya dan rutin mengonsumsi obat (ARV),” tutupnya.

Tidak Mudah

Perjuangan Alfian Priyanto (27), warga asal Jember melawan HIV/ AIDS juga berbuah manis.

Kini, kondisi Angga sapaan akrabnya sudah sehat dan menjalani hidup seperti sediakala.

Tentu bukan perkara mudah, Angga bisa sampai di titik ini. Angga harus melewati masa-masa sulit terlebih dahulu.

Kondisi kesehatan Angga sempat menurun drastis. Tak hanya itu, dirinya juga mendapat diskriminasi dari beberapa keluarga.

Angga menceritakan, dirinya terdiagnosis terjangkit HIV pada 2014.

Faktor risiko dirinya terjangkit HIV, karena Angga seorang gay. Angga menjadi gay sedari dia duduk di bangku kuliah.

Angga menduga, dirinya tertular HIV dari pacarnya, yang bernama Angga pula.

Nama panggilan Angga, dia ambil dari nama mantan pacarnya tersebut.

Alasannya, untuk mengenang sang pacar karena telah meninggal dunia.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya awal 2014, pacar Angga jatuh sakit. Pacarnya demam tinggi, batuk dan diare.

Sang pacar kerap berobat di Puskesmas. Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan, tubuhnya makin kurus.

“Saat itu saya tidak menduga apa-apa. Saya pikir sakit biasa. Saya juga belum tahu HIV,” katanya kepada Surya, Sabtu (30/11).

Setelah pacarnya meninggal, sekitar 7 bulan berselang, giliran kondisi Angga yang memburuk. Angga terserang diare dan batuk.

Lambat laun, kondisi Angga kian memburuk. Dia pun tak tahan dengan kondisi itu lantas memberanikan diri tes HIV.

“Setelah 1 jam diperiksa VCT, hasil yang keluar saya positif HIV. Saya pun terkejut dan shock. Tapi teman dan para dokter menenangkan saya serta memberikan motivasi,” paparnya.

Kemudian dokter membekali Angga dengan obat ARV. Angga rutin meminum obat itu.

Akan tetapi, tiga bulan berselang kondisinya makin tak membaik, hingga akhirnya dia dirawat inap di RSUD Dr Soetomo.

Usai menjalani perawatan selama sekitar 1 bulan, kondisi Angga berangsur membaik.

Setelah dirasa kondisinya membaik, dia memilih pulang kampung ke Jember.

Dia menjalani masa pemulihan di rumah hingga 2 bulan. Kondisinya makin membaik.

Sebab, Dia rutin meminum obat ARV dan kontrol Viral Load (cek virus) dan CD4 (tes imun).
Saat ini, virus HIV sudah tak terdeteksi di tubuhnya, CD4-nya pun mencapai 700.

Sementara, di Hari HIV/AIDS Dunia tahun ini, dia berharap agar tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. (M Romadoni/Danendra)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved