Hari AIDS International

Buktikan Pengidap HIV/AIDS Bisa Produktif, Tiga ODHA Asal Jatim Kini Hidup Normal

Bagi pengidap HIV/ AIDS, dukungan keluarga maupun lingkungan sangat penting untuk penyembuhan hingga keberlangsungan kehidupannya.

surya.co.id/habibur rohman
Peserta secara bersama melakukan beberapa gerakan senam saat memperingati Hari Aids Sedunia 2019 di area Car Free Day Jl Raya Darmo Surabaya, Minggu (1/12/2019). Kegiatan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Surabaya ini sekaligus kampanye pencegahan IMS & HIV AIDS, serta konsultasi. 

Tentu bukan perkara mudah, Angga bisa sampai di titik ini. Angga harus melewati masa-masa sulit terlebih dahulu.

Kondisi kesehatan Angga sempat menurun drastis. Tak hanya itu, dirinya juga mendapat diskriminasi dari beberapa keluarga.

Angga menceritakan, dirinya terdiagnosis terjangkit HIV pada 2014.

Faktor risiko dirinya terjangkit HIV, karena Angga seorang gay. Angga menjadi gay sedari dia duduk di bangku kuliah.

Angga menduga, dirinya tertular HIV dari pacarnya, yang bernama Angga pula.

Nama panggilan Angga, dia ambil dari nama mantan pacarnya tersebut.

Alasannya, untuk mengenang sang pacar karena telah meninggal dunia.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya awal 2014, pacar Angga jatuh sakit. Pacarnya demam tinggi, batuk dan diare.

Sang pacar kerap berobat di Puskesmas. Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan, tubuhnya makin kurus.

“Saat itu saya tidak menduga apa-apa. Saya pikir sakit biasa. Saya juga belum tahu HIV,” katanya kepada Surya, Sabtu (30/11).

Setelah pacarnya meninggal, sekitar 7 bulan berselang, giliran kondisi Angga yang memburuk. Angga terserang diare dan batuk.

Lambat laun, kondisi Angga kian memburuk. Dia pun tak tahan dengan kondisi itu lantas memberanikan diri tes HIV.

“Setelah 1 jam diperiksa VCT, hasil yang keluar saya positif HIV. Saya pun terkejut dan shock. Tapi teman dan para dokter menenangkan saya serta memberikan motivasi,” paparnya.

Kemudian dokter membekali Angga dengan obat ARV. Angga rutin meminum obat itu.

Akan tetapi, tiga bulan berselang kondisinya makin tak membaik, hingga akhirnya dia dirawat inap di RSUD Dr Soetomo.

Usai menjalani perawatan selama sekitar 1 bulan, kondisi Angga berangsur membaik.

Setelah dirasa kondisinya membaik, dia memilih pulang kampung ke Jember.

Dia menjalani masa pemulihan di rumah hingga 2 bulan. Kondisinya makin membaik.

Sebab, Dia rutin meminum obat ARV dan kontrol Viral Load (cek virus) dan CD4 (tes imun).
Saat ini, virus HIV sudah tak terdeteksi di tubuhnya, CD4-nya pun mencapai 700.

Sementara, di Hari HIV/AIDS Dunia tahun ini, dia berharap agar tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. (M Romadoni/Danendra)

Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved