PRESS RELEASE

Konsumsi Plastik di Indonesia Rendah, Tapi Pengelolaan Sampah Plastik Masih Jadi Masalah

Pemakaian plastik per kapita di Indonesia masih rendah, dengan perkiraan sekitar 21-22 kg per tahun, dengan total jumlah sekitar 5,9 juta ton/tahun

Konsumsi Plastik di Indonesia Rendah, Tapi Pengelolaan Sampah Plastik Masih Jadi Masalah
surya.co.id/rifky edgar
Tumpukan sampah plastik yang berada di TPA Supit Urang, Kota Malang, Senin (24/6/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemakaian plastik per kapita di Indonesia masih rendah, dengan perkiraan sekitar 21-22 kg per tahun, dengan total jumlah sekitar 5,9 juta ton per tahun.

"Angka itu lebih rendah dibandingkan Korea itu pemakaian plastik sudah 141 kg per kapita per tahun, demikian juga dengan Jepang konsumsi per kapita kira-kira 80 kg per tahun,” kata Edi Rivai, Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), saat menjadi salah satu pembicara dalam paparan Kelola Sampah Mulai dari Rumah di acara Social Good Summit 2019 yang digelar di Jakarta pada 26 November 2019 silam. 

Meski volume relatif lebih kecil dibanding negara lain, namun sampah palstik menjadi permasalahan besar.

"Karena pengelolaannya belum optimal. Jadi ke depan tinggal bagaimana kita mengelola dari out put (sampah) plastik itu sendiri," lanjut Rivai.

Caranya antara lain dengan melibatkan rumah tangga untuk memilah sampah dari rumah. Terlebih menurut Edi, pada dasarnya plastik diproduksi bukan untuk sekali pakai.

Sementara itu, rumah tangga yang memilah sampah di Indonesia baru mencapai 49,2 persen. Angka ini diperoleh dari survei yang dihelat Katadata Insight Center (KIC) terhadap 354 responden di lima kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Dalam survei ini dari 50,8 persen rumah tangga yang tidak memilah sampah mencapai 79 persen, di antaranya beralasan karena tidak ingin repot.

“Mereka berpikir ribet, milih ini jenis apa, dan mereka juga berpikir nanti di tempat pembuangan, sampah akan tercampur,” kata Franklin Michael Hutasoid dari KIC Social Good Summit yang tampil bersama para pembicara sesi dua yang bertema “Climate Change and Plastic Waste Recycling Management”.

Franklin menjelaskan, responden yang tidak memilah sampah dengan alasan sampah akan tercampur di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 17 persen, sedangkan sebanyak 3 persen menyebut pemilahan tidak ada manfaatnya dan 1 persen mengemukakan alasan lain.

Survei juga menggambarkan cara-cara rumah tangga memilah sampah. Dari 49,2 persen yang memilah sampah, sebanyak 78 persen memilah dalam dua ketegori, 18 persen dalam tiga kategori dan 5 persen persen menyatakan telaten memilah sampah dalam empat kategori. Pemilahan dengan kategori sampah basah dan kering dilakukan oleh 59 persen responden.

"Pemisahannya sampah kering dan basah tidak cukup, karena idealnya ada pemisahan organik, anorganik, dan limbah berbahaya,” kata Franklin.

Halaman
123
Tags
plastik
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved