Berita Tulungagung

ULT PSAI Tulungagung Dampingi 13 Anak Korban Kejahatan Asusila Sesama Jenis Selama 2019

ULT PSAI mendampingi 13 anak, terdiri dari 12 anak laki-laki dan satu anak perempuan, korban kejahatan asusila.

ULT PSAI Tulungagung Dampingi 13 Anak Korban Kejahatan Asusila Sesama Jenis Selama 2019
istimewa/net
Pemilik Toko Nikita di Pasar Boyolangu, Tulungagung ditangkap Polda Jatim atas kasus asusila. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Selama 2019, Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) Tulungagung mencatat, ada empat kasus kejahatan asusila sejenis dengan korban anak-anak. Dari empat kasus itu, ULT PSAI mendampingi 13 korban, terdiri dari 12 anak laki-laki dan satu anak perempuan.

“Kami mendampingi dari awal korban dimintai keterangan sebagai saksi, sampai selesai proses persidangan. Dilanjutkan pemulihan psikologisnya,” terang Koordinator ULT PSAI Tulungagung, Sunarto, Selasa (26/11/2019).

Yang terbaru, ULT PSAI mendampingi enam anak laki-laki, yang menjadi korban Muanam alias Mayar, seorang pemilik toko elektronik di Desa/Kecamatan Boyolangu.

Sebelumnya ada empat anak laki-laki yang menjadi korban Muhanjar Sidik (42), alias Bang Jek, warga Dusun Mayangan, Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru.

Kemudian dua anak laki-laki yang menjadi korban Purwanto alias Poernanda, pemilik salon di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.

Selain itu ada satu anak perempuan yang menjadi korban kejahatan asusila kakak kelasnya.

Sedangkan tahun 2018 ada satu anak laki-laki yang menjadi korban Roni, warga Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol.

Sunarto mengungkapkan, ada kecenderungan para anak laki-laki itu menjual diri kepada predator anak.

“Jadi mereka mendatangi para pelaku itu, dengan harapan diberi uang,” ungkap Sunarto.

Beberapa kasus memang ada unsur tipu daya, dengan iming-iming uang.

Masih menurut Sunarto, kondisi ini tidak lepas dari gawai dan internet yang sudah menjadi kebutuhan di antara remaja itu.

Saat mereka tidak punya gawai, atau tidak punya paket internet, mereka melakukan hal tidak terpuji itu untuk mendapatkan uang.

“Pemicu utama adalah pola pengasuhan yang lemah di dalam keluarga. Salah satunya orangtua cuek saat anaknya pulang malam, di atas jam 10 (malam),” tuturnya.

Karena internet sudah dianggap kebutuhan, anak-anak memilih berlama-lama di warung kopi, untuk mendapatkan WIFI gratis.

"Saat itulah anak-anak dalam kondisi rentan menjadi korban kejahatan asusila," pungkasnya.

Penulis: David Yohanes
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved