Berita Gresik

Penjelasan Dirut PG terkait Pemeriksaan Dirinya oleh KPK sebagai Saksi Kasus Jasa Angkutan Amoniak

Dirut PT Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait operasi tangkap tangan (OTT) jasa angkutan amoniak.

Penjelasan Dirut PG terkait Pemeriksaan Dirinya oleh KPK sebagai Saksi Kasus Jasa Angkutan Amoniak
surabaya.tribunnews.com/sugiyono
SAKSI - Dirut PT Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi (Tengah) menerima potongan tumpeng dari istrinya saat hari ulang tahun Perkumpulan Istri Karyawan Petrokimia Gresik (PIKPG) di GOR PG. 

SURYA.co.id | GRESIK - Direktur Utama (Dirut) PT Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait operasi tangkap tangan (OTT) jasa angkutan amoniak, Kamis (21/11/2019).

Kasus tersebut menjerat mantan anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso. Pemeriksaan sebagai saksi itu juga untuk melengkapi berkas tersangka Taufik Agustono.

Kepada wartawan di Gresik, Rahmad mengatakan, pemeriksaan di KPK pada Kamis (21/11/2019), hanya sebagai saksi untuk melengkapi kasus OTT KPK pada Maret 2019 atas kasus jasa angkutan amoniak yang menjerat mantan anggota DPR RI Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Menurut, Rahmad, kasus tersebut diduga terjadi pada Oktober 2017.

Saat itu, dirinya sedang bertemu dengan Direktur PT Danareksa Sekuritas Saidu Solihin.

Ternyata di sana ada Bowo Sidik Pangarso.

Menurutnya, saat itu hanya pertemuan biasa, tidak ada pembahasan tentang distribusi amoniak.

"Saat itu, saya rasa tidak ada pembahasan soal distribusi amoniak. Tidak ada pembahasan yang spesifik," imbuhnya.

Sehingga, dari kasus OTT yang melibatkan mantan anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso.

Pemeriksaan sebagai saksi itu juga untuk melengkapi berkas tersangka Taufik Agustono selaku Direktur PT HTK (Humpuss Transportasi Kimia).

“Saya hanya sebagai saksi. Saya telah berikan semua keterangan yang dibutuhkan penyidik terkait kasus OTT yang melibatkan anggota DPR RI,” kata Rahmad, Jumat (22/11/2019).

Dari keterangannya di KPK, Rahmad mengaku ikut mendukung kinerja KPK dan mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sebab, kasus OTT tersebut melibatkan PT Pupuk Indonesia Logistik (PIL), anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT HTK.

Keterlibatan perusahaan PIL tersebut karena pada 2018, PT Petrokimia Gresik telah mengoperasikan pabrik Amoniak-Urea II. Sehingga bisa memproduksi sendiri bahan baku pupuk.

"Pabrik baru tersebut berhasil meningkatkan produksi amoniak dari 445.000 ton pertahun menjadi 1 Juta ton pertahun. Sehingga, untuk pendistribusian amoniak di pabrik -pabrik pupuk diperlukan transportasi. Mungkin ini yang direkayasa," pungkasnya.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved