Citizen Reporter

HMJ Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Bagi Cara Tanamkan Cinta Bahasa Indonesia

HMJ Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Bagi Cara Tanamkan Cinta Bahasa Indonesia

HMJ Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Bagi Cara Tanamkan Cinta Bahasa Indonesia
Citizen Reporter/Ita Sukartina
HMJ Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Bagi Cara Tanamkan Cinta Bahasa Indonesia 

SURYA.co.id - Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) mengadakan seminar nasional yang diadakan di Gedung A3 Lantai 2 UM, Rabu (30/10/2019).

Acara bertema Peran Literasi, Bahasa dan Sastra Sebagai Strategi Mewujudkan Indonesia Emas 2045 itu diisi dengan pemakalah utama dan pemakalah pendamping.

Salah satu pemakalah utama yakni Didin Widyartono mengatakan masyarakat Indonesia pada masa kini cenderung ‘kurang percaya diri’ untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai nama-nama produk atau label makanan, komunitas, wisata, akomodasi dan restoran.

Mereka memilih menggunakan bahasa Inggris yang sejatinya bukan identitas Indonesia. Bahasa Indonesialah identitas Indonesia.

Ia mengingatkan, pengaturan penggunaan bahasa Indonesia sudah diatur dalam pasal 26-39 UU No. 24 Tahun 2009.

Bahasa Indonesia digunakan dalam peraturan perundang-undangan, dokumen resmi negara, aktivitas pendidikan nasional, pelayanan administrasi publik di instansi pemerintah, forum nasional dan internasional,

komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta, laporan tiap lembaga kepada pemerintah, penulisan karya ilmiah, nama geografi, bangunan, gedung, jalan, merek dagang, lembaga usaha dan pendidikan, rambu umum, penunjuk jalan, hingga media massa.

Melihat kecenderungan negatif itu perlu disiapkan generasi emas 2045 yang memiliki sifat positif terhadap bahasa Indonesia.

Bangsa Indonesia harus bangga memiliki bahasa sesuai dengan nama negaranya, Indonesia.

Salah satu caranya dengan mengingat kembali peran M Tabrani dari Pamekasan yang menciptakan istilah bahasa Indonesia.

Joni Endardi, Kabid Pengembangan Strategi Kebahasaan dari Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud turut mengingatkan kembali penggunaan bahasa Indonesia.

Ia menegaskan, adanya kewajiban berbahasa Indonesia bukan berarti harus meninggalkan bahasa daerah.

“Warga negara Indonesia harus memiliki prinsip sebagaimana yang selalu disebarluaskan di media sosial Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,” kata Joni.

Ita Sukartina
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang itasilily@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved