Lapor Cak

Para Ibu di Surabaya Waswas Telur Terkontaminasi Dioksin

Meskipun sejumlah pihak terkait, termasuk Pemprov Jatim telah mengimbau untuk tidak khawatir, namun sebagian masyarakat masih merasa was-was.

Para Ibu di Surabaya Waswas Telur Terkontaminasi Dioksin
surya.co.id/christine ayu nurchayanti
Telur ayam yang dijual di Pasar Karangmenjangan Surabaya, Kamis (21/11/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Baru-baru ini tersiar kabar penelitian dari International Pollutants Elimination Network (IPEN) bersama Arnika Association dan LSM Indonesia Nexus3 dan Ecoton.

Melalui laporan tertulis yang berjudul 'Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia', mereka memaparkan hasil penelitian di antaranya menyebutkan telur ayam hasil ayam liar di Tropodo, Sidoarjo, mengandung dioksin dengan kadar tinggi.

Dioksin tergolong sebagai zat kimia beracun. Hal ini pun mendapat respon dari masyarakat, utamanya masyarakat Jawa Timur.

Meskipun sejumlah pihak terkait, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur, telah mengimbau untuk tidak khawatir, namun sebagian masyarakat masih merasa was-was.

Ibu-ibu yang tinggal di Surabaya, misalnya, masih ragu untuk membeli telur ayam. Pasalnya, mereka  mengatakan, Sidoarjo merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Surabaya.

Supriana, misalnya, warga Kecamatan Lakasantri. Mengetahui kabar yang tersiar itu, ibu empat anak ini menjadi takut membeli telur.

"Iya beberapa hari kemarin saya tahu info tentang telur ayam yang mengandung racun, katanya dari limbah plastik," ungkap Supriana, Kamis (21/11).

Lanjutnya, karena merasa takut dan ragu bahwa telur ayam yang ia beli aman, ia memutuskan untuk tidak membeli telur terlebih dahulu.

"Sayang sekali, padahal anak saya suka telur. Tapi karena takut jadi saya nggak beli dulu. Takut kena racunnya," Supriana mengatakan.

Hal serupa dilontarkan oleh Eni, warga yang berdomisili di Jojoran Surabaya. Ia mengatakan, masih bingung dengan kabar yang beredar tersebut.

"Mau nggak percaya itu ada beritanya. Mau percaya takutnya hoaks. Jadi saya bingung sebenarnya telur di sini ada racunnya atau enggak," tuturnya.

Lanjutnya, karena ragu-ragu, ia pun memutuskan untuk mengurangi mengonsumsi telur dan menggantinya dengan yang lain.

"Sebenarnya saya juga bingung. Jadi untuk jaga-jaga saya mengurangi untuk memasak telur, diganti sama lauk lain seperti tempe atau tahu," jelasnya.

Ia pun berharap supaya telur-telur yang beredar di pasar atau toko terbebas dari dioksin.

"Semoga nggak ada kandungan dioksinnya. Kalau pun ada, semoga cepat-cepat ditanggulangi," pungkasnya.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved