Breaking News:

Berita Surabaya

Industri Pariwisata Berkembang, Staf Ahli Menpar Sebut Lulusan Sekolah Kuliner Punya Kesempatan Luas

Menghadapi perkembangan industri kuliner yang semakin pesat, kebutuhan sekolah kuliner ataupun profesi chef juga meningkat

sulvi sofiana/surya
Wisudawan Akademi Kuliner dan Patiseri Ottimmo International di Hotel Bumi, Kamis (21/11/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menghadapi perkembangan industri kuliner yang semakin pesat, kebutuhan sekolah kuliner ataupun profesi chef juga meningkat. Terlebih, fokus pemerintah beberapa tahun terakhir berupaya dalam mendongkrak pariwisata di Indonesia.

Staf Ahli Menteri Pariwisata, Priyanto Rudito, menyebut ada tiga hal yang mampu mendongkrak sektor pariwisata di Indonesia. Pertama karena alamnya, budaya hingga kreasi manusia.

”Kuliner ini bagian dari budaya. Dari hasil studi yang kami lakukan, kuliner memiliki peringkat tertinggi dalam kontribusi daya tarik wisatawan asing,” ujar Priyanto usai menghadiri prosesi wisuda Akademi Kuliner dan Patiseri Ottimmo International di Hotel Bumi, Kamis (21/11/2019).

Di lain sisi, pihaknya juga membutuhkan ambasador dalam industri kuliner untuk menjadi daya tarik.

”Siapa pelakunya? Ya Chef itu. Chef memiliki peran yang strategis di industri pariwisata. Chef bisa menjadi ambasador grastonomi atau diplomasi kuliner,” paparnya.

Dengan berkembangnya industri pariwisata, tentu saja akan ada tambahan destinasi.

Dampaknya, kebutuhan chef juga akan cukup tinggi dengan adanya rumah makan.

”Maka dengan meningkatnya kebutuhan industri pariwisata, secara tidak langsung tingkat kebutuhan chef juga meningkat. Saya melihat kebutuhan itu harus dipenuhi” paparnya.

Selain kebutuhan akan chef, pihaknya juga mendorong olahan nation food yang ditawarkan dalam mendongkrak sektor pariwisata.

”Kami lakukan studi yang diperoleh dengan sejumlah makanan khas. Misalnya rendang, soto, gado gado, sate dan nasi goreng," pungkasnya.

Sementara itu, Founder Ottimmo, Danu Rianto, menuturkan lulusan chef Ottimmo tidak hanya menjadi tukang masak, tapi juga memiliki kemampuan bisnis hingga memahami nutrisi makanan.

”Rasanya kalau untuk food and beverage ini bisnis yang tidak akan mati. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang ahli dalam meramu olahan,” imbuh Danu.

Oleh karena itu, untuk menghasilkan lulusan berkualitas pihaknya pun bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi di Australia untuk melakukan uji kompetensi sertifikasi chef.

”Kami belum ada (sertifikasi), tapi tahap kami akan membuat lembaga sertifikasi. Di Indonesia memang belum ada lembaga sertifikasi. Tapi kita bekerjasama dengan perguruan tinggi Australia untuk sertifikasi. Uji kompetensi ini juga bisa digunakan ketika lulusan ingin menjadi chef disana,” pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved