Berita Ekonomi Bisnis

GDS Tetap Lanjutkan Investasi Mesin Baru meski Persaingan semakin Ketat

Seorang pekerja sedang mengerjakan produksi baja di salah satu area pabrik PT GDS Surabaya, Selasa (19/11/2019).

GDS Tetap Lanjutkan Investasi Mesin Baru meski Persaingan semakin Ketat
surya.co.id/sri handi lestari
Aktivitas seorang pekerja di salah satu area pabrik PT GDS Surabaya, Selasa (19/11/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kinerja industri baja di Indonesia semakin sulit dengan adanya persaingan yang ketat dari produk impor dan hadirnya pabrik baja baru dari China di Sulawesi Tengah.

Namun bagi PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) persaingan itu harus dihadapi.

Bahkan perseroan dengan kantor pusat di kawasan Margomulyo, Surabaya itu optimistis masih bisa meningkatkan kinerjanya.

"Apalagi tahun 2019 ini, kinerja kami berhasil meningkatkan penjualan hingga 26,11 persen hingga September 2019 (year on year). Dan kami optimis bisa capai target pendapatan hingga akhir tahun dengan kondisi pasar yang ada saat ini," kata Gwie Gunanto, Direktur GDS saat Public Expose dalam rangka ulang tahun pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/11/2019).

Kembali soal persaingan dengan adanya pabrik baja baru di Morowali, Sulawesi Tengah, Direktur GDS, Hadi Sutjipto menambahkan, pihaknya tidak menjadikan persaingan itu untuk diam saja.

"Tapi kami tetap agresif dan melakukan kolaborasi serta me-manage persaingan itu untuk bisa menjadi peluang bagi bagi yang bisa memberi nilai lebih kepada perseroan," ungkap Hadi.

Diakui Gwie Gunanto, masih besarnya porsi pemerintah Indonesia dalam membangun infrastruktur membuat permintaan pasar terhadap baja mengalami peningkatan.

"Sekitar 10-11 persen di tahun ini dan kami prediksi hingga beberapa tahun kedepan akan di angka itu, sehingga peluang untuk mengembangkan pasar dan mempertahankan market share (pangsa pasar) masih bisa kami lakukan," jelas Gwie Gunanto.

Tahun ini, perseroan juga masih on progres dalam investasi pembangunan plat mill GDS 2 yang bernilai 100 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Plat mill ini telah disiapkan sejak tahun 2014 dan ditargetkan selesai di akhir tahun 2021. Progres pengerjaan telah mencapai 70 persen.

"Kami tetap harus mengembangkan pabrik dan mesin. Jangan sampai berhenti. Teknologi semakin meningkat dan kami harus bisa mengikutinya," tambah Gwie.

Sementara itu, secara lengkap Hadi menyebytkan, hingga akhir tahun 2019 ini, pihaknya mentargetkan penjualan bisa mencapai Rp 1,6 triliun.

Angka itu meningkat dari pendapatan tahun 2018 lalu yang mencapai Rp 1,5 triliun.

Sementara capaian penjualan hingga September 2019 sudah mencapai Rp 1,3 triliun.

Baik Hadi maupun Gwie Gunanto, optimis target tersebut bisa tercapai dalam tiga bulan terakhir 2019 ini.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved