Berita Blitar

Hipertensi Tak Kunjung Sembuh, Ibu di Blitar Terjun ke Sumur Sedalam 40 Meter

"Karena sumurnya dalam, dan tak ada petugas yang berani turun (ke dasar sumur), maka evakuasi jasad korban berlangsung sekitar tujuh jam," katanya

Hipertensi Tak Kunjung Sembuh, Ibu di Blitar Terjun ke Sumur Sedalam 40 Meter
ist
Sumur maut tempat Ny Suminten bunuh diri karena hipertensi yang tak kunjung sembuh. 

SURYA.co.id | BLITAR - Diduga putus asa karena menderita penyakit darah tinggi yang tak kunjung sembuh, Ny Suminten (58), warga Dusun Betek, Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, nekat bunuh diri, Selasa (12/11) pagi.

Dia mengakhiri nyawanya dengan cara terjun ke sumur berkedalaman 40 meter di belakang rumahnya. 

Korban ditemukan pertama kali oleh menantunya, Sutrisno (34), yang tinggal serumah dengan korban. Itu bermula dari kecurigaan Sutrisno saat melihat papan kayu yang dipakai menutup bibir sumur itu terbuka dan berserakan di tanah.

"Dia bersama bapak mertuanya (Sukidi) memang sengaja mencari korban karena sejak pukul 05.00 WIB, korban sudah tak ada di tempat tidurnya. Tak mungkin, jam segitu dia main ke rumah tetangga, sehingga mereka mencari ke belakang rumahnya," kata Kapolsek Binangun, AKP Nanang Budianto. 

Saat ke belakang rumahnya itu, ia melihat papan kayu, yang biasa dipakai menutup bibir sumur itu terbuka dan berserakan di tanah.

Curiga dengan kondisi itu, Sutrisno mengintipnya, namun tak melihat apapun karena kondisinya gelap sehingga mengambil senter. Setelah disenter ke dalam sumur, ia melihat ada tubuh mengambang.

"Diamati oleh anaknya, ternyata itu tubuh ibunya, sehingga ia berteriak minta tolong," paparnya.

Meski warga bersama petugas sudah berdatangan namun tak ada yang berani turun. Sebab, sumur sedalaman 40 meter itu biasanya mengandung gas beracun, sehingga menunggu kedatangan tim Basarnas dari Trenggalek.

"Tim dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Pemkab Blitar sempat mencoba turun, namun gagal. Sebab, saat turun dengan kedalaman sekitar 35 meter, ia sudah memberikan isyarat dengan menarik tali tampar. Itu tandanya, dia tak kuat karena tak bisa bernafas. Baru setelah tim Basarnas dari Trenggalek datang, jasad korban bisa dievakuasi," paparnya.

Untuk turun ke sumur sedalam itu, petugas harus memakai tabung oksigen.

"Karena sumurnya dalam, dan tak ada petugas yang berani turun (ke dasar sumur), maka evakuasi jasad korban berlangsung sekitar tujuh jam atau sekitar pukul 12.30 WIB, mayat korban baru bisa terangkat," kata AKP Nanang. Budianto, Kapolsek Binangun.

Wawan Aprilianto, Kades Rejoso, menuturkan, korban itu sudah tiga kali dibawa ke rumah sakit karena menderita hipertensi. Sebentar sembuh, rupanya penyakitnya terus kambuh sehingga putus asa. Bahkan, ia pernah ngomong ke suaminya kalau dirinya sudah pasrah dan siap meninggal dunia.

"Katanya, daripada merepotkan keluarganya, ia lebih baik mati saja. Itu berkali-kali ngomong ke suaminya," pungkasnya.(fiq)

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved