Korban Pinjaman Online Kebanyakan warga yang Konsumtif

"Yang jadi korban itu kebanyakan bukan untuk kebutuhan, tapi untuk menuruti keinginan saja. Atau mudah percaya dengan iming-iming," kata politisi PDIP

Korban Pinjaman Online Kebanyakan warga yang Konsumtif
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Sosialisasi "Waspada Pinjaman Online" oleh OJK di Waru, Sidoarjo 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Korban financial technology (fintech) abal-abal atau penipuan bermodus pinjaman online, kebanyakan adalah masyarakat yang konsumtif.

Mereka meminjam uang bukan untuk kebutuhan, tapi lebih untuk memenuhi keinginan saja. Serta, banyak korban fintech karena tidak mengukur kemampuannya sendiri saat meminjam uang lewat aplikasi online.

"Memang proses pinjam lewat fintech sangat mudah. Asal bisa mengakses aplikasi, sudah dapat pinjaman. Tapi resikonya juga ada," kata Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono.

Karenanya, OJK berpesan agar masyarakat tidak asal. Harus dicek dan diperiksa kualitasnya dulu, karena banyak juga fintech ilegal.

Pihaknya mengaku terus menggelar sosialisasi ke masyarakat agar pemahamannya terhadap fintech lebih bagus. Supaya tidak asal percaya dengan iming-iming yang ada.

"OJK sudah menutup lebih dari 1.400 fintech ilegal. Tapi masih saja ada, seperti mereka ditutup kemudian buka lagi dengan nama lain," lanjutnya di sela acara sosialisasi di Waru, Sidoarjo.

Anggota DPR RI, Indah Kurnia yang juga hadir di acara itu juga mengungkapkan bahwa kebanyakan korban fintech ilegal adalah mereka yang gaya hidupnya konsumtif.

"Yang jadi korban itu kebanyakan bukan untuk kebutuhan, tapi untuk menuruti keinginan saja. Atau mudah percaya dengan iming-iming," kata politisi PDIP tersebut.

Makanya, sosialisasi dan pemahaman terkuat fintech terus disampaikan ke masyarakat. Agar korban tidak terus berjatuhan. Di sisi lain, penertiban terhadap fintech ilegal juga terus digalakkan.

"Jika sosialisasi sudah kerap dilakikan tapi tetap banyak korban, kemungkinannya ada dua hal. Bisa jadi pelakunya yang sangat pintar mengiming-imingi calon korban dengan program menggiurkan, atau kedua memang masyarakat yang terlalu konsumtif sehingga mudah terbawa," tukasnya.

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved