Citizen Reporter

Peran Pramoedya Ananta Toer dalam Globalisasi Sastra Indonesia

Kecintaan akan Pram membuat dia gagal berkuliah S3 di Indonesia pada 1988 sebab waktu itu pemerintah melarang buku-buku Pram dibaca

Peran Pramoedya Ananta Toer dalam Globalisasi Sastra Indonesia
M Oktavia Vidiyanti/citizen reporter
Peran Pramoedya Ananta Toer dalam Globalisasi Sastra Indonesia 

SURYA.co.id - Di hadapan sekitar 125 mahasiswa S2 dan S3 Prodi Bahasa dan Sastra Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Koh Young Hun, profesor di Jurusan Malayu-Indonesia Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Korea, memaparkan kedudukan Pramoedya Ananta Toer dalam globalisasi sastra Indonesia.

Acara yang digelar Senin (4/11/2019) di Gedung Pascasarjana Unesa itu untuk mengingatkan tentang Pram yang merupakan aset bangsa yang tidak boleh dilupakan.

Koh mengenal Pram sejak berkuliah S1 di HUFS sekitar 1977.

Kecintaan akan Pram membuat dia gagal berkuliah S3 di Indonesia pada 1988 sebab waktu itu pemerintah melarang buku-buku Pram dibaca apalagi diperbincangkan secara akademis.

Akhirnya dia berkuliah di Universiti Malaya dan berhasil menulis disertasi yang diterbitkan dengan judul Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia.

Koh bukan hanya mengenal Pram melalui novel-novelnya, namun lama berkunjung ke rumah Pram, bahkan sudah dianggap sebagai anak oleh keluarga itu.

Dia berpikir, sungguh tidak masuk akal jika Pram yang karya-karyanya kondang di seluruh dunia itu gagal memperoleh hadiah Nobel.

Bahkan dalam dokumen berupa surat yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dinyatakan kegagalan Pram memperoleh hadiah Nobel disebabkan oleh keberhasilan diplomasi Indonesia di luar negeri. Hal itu sungguh ironis.

Persoalan politik telah membuat sastrawan terbaik di Indonesia itu dihalangi untuk mendapat penghargaan bergengsi itu.

“Nama Pram memang dikait-kaitkan dengan Lekra. Padahal dalam penuturan langsung, Pram tidak memiliki hubungan politis dengan Lekra,” kata Koh.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved