Berita Ponorogo

Tujuh Tahun Menunggu, Pasangan Tunagrahita di Ponorogo Ini Akhirnya Menikah Resmi

setelah tujuh tahun menikah secara siri, pasangan tunagrahita ini akhirnya menikah resmi, tercatat dalam akta perkawinan.

ist
Pernikahan pasangan tunagrahita di Rumah Harapan, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo, pada Senin (4/11/2019) pagi 

SURYA.co.id|PONOROGO - Senin, 4 November 2019, menjadi hari paling membahagiakan bagi Misdi (45) dan Boini (52).

Sebab, setelah tujuh tahun menikah secara siri, pasangan tunagrahita ini akhirnya menikah resmi, tercatat dalam akta perkawinan.

Acara penikahan yang penuh sukacita ini dilangsungkan di Rumah Harapan yang berlokasi di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo, Senin (4/11/2019) pagi.

"Tadi kami menikahkan pasangan tunagrahita di Rumah Harapan, dihadiri Kepala KUA, perangkat desa, pendamping tunagrahita, dan warga setempat. Suasananya sangat mengharukan," kata Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi.

Dia menuturkan, di Rumah Harapan terdapat 98 orang penyandang tunagrahita dalam kategori ringan, sedang, hingga berat. Jumlah ini jauh berkurang dibandingkan ketika 1980-an.

"Dulu jumlahnya ada ratusan, tetapi kalau sekarang tinggal 98 orang. Para tunagrahita ini kami berdayakan dengan banyak kegiatan agar mereka mandiri," kata Eko.

Dahulu, kata Eko, para tunagrahita ini sangat sulit sekali mencari makan untuk sehari-hari. Namun, setelah mendapatkan berbagai pelatihan di Rumah Harapan, para tunagrahita sudah memiliki ketrampilan wirausaha dan berpenghasilan.

"Alhamdulillah secara ekonomi, sekarang sudah lumayan, kalau dulu untuk makan saja susah, sekarang sudah memiliki penghasilan sendiri. Nah, mereka yang memiliki ketertarikan kita nikahkan," katanya.

Dia menuturkan, para tunagrahita di Rumah Harapan sudah banyak yang menikah sejak 2010. Hanya saja, para tunagrahita ini hanya menikah siri saja, karena tidak memiliki KTP atau KK.

"Seperti pasangan Misdi dan Boini, mereka sudah kami nikahkan lama, tapi siri, karena kesulitan data," katanya.

Dia mengatakan, Boini berasal dari Desa Jonggol, Kecamatan Jambon, Ponorogo. Sedangkan Misdi merupakan warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo. Keduanya sudah memiliki dua orang anak.

"Misidi kami ajak kerja di proyek yang ada di desa dengn gaji Rp 70 ribu/hari, plus kita kasih bantuan kambing untuk dipelihara dan dikembangkan. Kalau Boini, sehari-hari bikin keset ,dan batik ciprat," imbuhnya.

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved