Pemprov Jatim

Solusi Gubernur Khofifah terkait Curhatan Guru SMA yang Mengeluhkan Disparitas akibat Sistem Zonasi

Gubernur Khofifah Indar Parawansa akan melakukan quick research terkait keluhan kepala sekolah dan guru.

Solusi Gubernur Khofifah terkait Curhatan Guru SMA yang Mengeluhkan Disparitas akibat Sistem Zonasi
surya.co.id/fatimatuz zahro
Gubernur Khofifah memberi keterangan terkait curhatan sejumlah guru SMA. 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Gubernur Khofifah Indar Parawansa merespons keluhan kepala sekolah dan guru BP SMA Komplek Surabaya dan beberapa SMA favorit di Surabaya dan Sidoarjo.

Keluhan itu disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam audensi di Kantor Pahlawan, Senin (4/11/2019).

Terkait hal ini Gubernur perempuan pertama di Jatim ini akan melakukan quick research.

Para kepala sekolah dan guru tersebut curhat ke gubernur terkait dispartitas dan munculnya sejumlah persoalan dampak dari penerapan penerimaan peserta didik baru 2019/2010 yang menggunakan sistem zonasi.

Pasalnya setelah hampir satu semester berjalan ada permasalahan yang dihadapi di sekola terutama dengan diterapkannya sistem PPDB zonasi. Salah satu yang terberat adalah masalah disparitas.

Permasalahan itu disampaikan ke gubernur dengan harapan bisa mendapatkan solusi dan penyelesaian masalah.

Khusus untuk masalah disparitas dikatakan Khofifah, saat ini memang cukup banyak guru yang menyampaikan bahwa ada siswa yang dengan NUN tidak tinggi akhirnya bisa masuk ke sekolah favorit.

Namun akhirnya mereka mengalami kesulitan mengikuti mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Mereka bahkan ada siswa yang berhenti sekolah, hanya seminggu sekali masuk sekolah hingga akhirnya memutuskan keluar sekolah.

"Dengan kondisi ini kita ingin lakukan quick research, ini penting untuk melihat kendala mendekatkan disparitas dari segi kapasitas input untuk bisa mengikuti program yang sudah menjadi standar sekolah-sekolah tertentu," kata Khofifah.

Mantan Mensos RI ini mengatakan ada sejumlah langkah yang kemudian bisa ditempuh. Misalnya menerapkan adanya konselor sebaya, dan juga dibutuhkan guru pembimbing tertentu. Agar siswa yang kesulitan belajar bisa mendapatkn program stimulus aagar bisa meningkatkan kapasitas inputnya.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved