Single Focus

Honorer K2 Tak Bisa Ikut CPNS karena Sudah 40 Tahun

"Kami berharap ada perlakuan khusus untuk kami, para K2. Paling tidak kami bisa ikut tes CPNS tahun ini dan tidak perlu tes kemampuan,"

Honorer K2 Tak Bisa Ikut CPNS karena Sudah 40 Tahun
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Sejumlah guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap yang tergabung dalam Perkumpulan Honorer Kategori 2 Indonesia (PHK2I) Jatim saat berkumpul di Taman Apsari, Jumat (1/11). Rekrutmen CPNS oleh Pemerintah membuat nasib honorer K2 harap-harap cemas. Bagi yang berusia diatas 35 tahun belum jelas nasib meski sudah belasan bahkan puluhan tahun mengabdi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Nasib ribuan honorer kategori dua (K2) di Jatim hingga kini belum jelas. Bukan hanya masalah honor tetapi juga karena status mereka yang tak pasti.

Selama ini, mereka menerima honor sekitar Rp 300.00 hingga 600.000 per bulan. Meski, saat ini mereka tertolong dengan tambahan insentif Rp 750.000 dari Pemprov Jatim.

Jika ingin menjadi PNS, mereka harus tes masuk CPNS. Itu pun berlaku untuk mereka yang berusia di bawah 35 tahun, dan harus bersaing dengan mereka yang baru lulus kuliah.

"Kami berharap ada perlakuan khusus untuk kami, para K2. Paling tidak kami bisa ikut tes CPNS tahun ini dan tidak perlu tes kemampuan," harap Ketua Perkumpulan Honorer Kategori 2 Indonesia (PHK2I) Jatim Eko Mardiono, Minggu (4/12).

Saat ini, total honorer K2 seluruh Jatim mencapai 20.000. Mereka tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jatim. Dari jumlah itu, separo tak lagi berstatus honorer, alias sudah lolos CPNS.

Khusus K2 di Kota Surabaya, saat ini menyisakan 2.216 orang. Mereka menyebar di seluruh sekolah setiap jenjang. Mulai jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK.

Namun setelah alih kelola SMA/SMK dari Pemkot Surabaya ke Pemprov Jatim, mereka mengeluh. Eko menyebut, honor para K2 di SMA dan SMK di Surabaya di bawah UMK.

"Honor saat ini kisaran Rp 2,5 juta. Kalah dengan K2 jenjang SD dan SMP yang sudah UMK," kata Eko, yang bekerja di bagian Tata Usaha di sebuah sekolah negeri di Surabaya.

Ini seperti dialami Achmad Diran, guru tidak tetap (GTT) sebuah sekolah menengah atas di Surabaya. Ia kecewa lantaran menginjak tahun ke-16 pengabdiannya di dunia pendidikan, nasibnya belum sejahtera.

Di usianya yang ke-40 tahun ini, ia belum diangkat sebagai PNS. "Sudah tidak bisa ikut CPNS. 2013 Sudah mendaftar, tetapi tidak lolos," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved