Berita Jombang

Pengedar Narkoba di Jombang Jual 10 Butir Pil Koplo kepada Polisi yang Nyamar Pembeli

Pengedar narkoba di Kabupaten Jombang menjual 10 butir pil koplo kepada polisi yang menyamar sebagai pembeli.

Pengedar Narkoba di Jombang Jual 10 Butir Pil Koplo kepada Polisi yang Nyamar Pembeli
surya.co.id/sutono
Polisi memperlihatkan Nur Alfian (20), pengedar pil double L berikut barang buktinya yang diringkus anggota Polsek Ploso, Jombang, Kamis (31/10/2019). 

SURYA.co.id | JOMBANG - Petugas Polsek Ploso Jombang harus berpura-pura memesan narkoba jenis double L alias pil koplo saat berupaya mengungkap peredaran narkoba di wilayah hukumnya.

Hasilnya, Nur Alfin (20) warga Desa Pagerwojo Kecamatan Perak Jombang berhasil diringkus dalam penyamaran itu, Kamis (31/10/2019).

Penyamaran ini digunakan untuk menindaklanjuti informasi adanya peredaran dan penyalahgunaan narkoba jenis pil double L di wilayah Kecamatan Ploso.

Anggota Unit Reskrim Polsek Ploso lantas memesan obat-obatan terlarang itu kepada tersangka yang sudah terendus polisi sebagai pengedar pil koplo.

Mendapat pesanan, tersangka datang membawa barang haram pesanan anggota yang menyamar sebagai pembeli, di lokasi yang ditentukan, di minimarket Desa Losari Kecamatan Ploso.

“Saat bertemu itulah, anggota langsung melakukan penangkapan. Pelaku ditangkap di depan sebuah minimarket Desa Losari Kecamatan Ploso," kata Kapolsek Ploso, Kompol Sutikno, Kamis (31/10/2019).

Dari tangan tersangka polisi menyita sepuluh butir pil double L dan sebuah handphone (HP) yang diduga digunakan pelaku untuk transaksi pil haram ini.

Selanjutnya pelaku diinterograsi dan mengakui narkoba jenis double L sebanyak 10 (sepuluh) butir dan sebuah HP tersebut miliknya.

"Pelaku dan barang bukti diamankan di Polsek Ploso guna proses hukum lebih lanjut," terang Sutikno.

Kompol Sutikno mengatakan, pihaknya akan melakukan pengembangan terkait jaringan dari Nur Alfin ini.

Harapannya, jaringan yang lebih besar di atasnya bisa terungkap.

Menurut Sutikno, atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 196 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

"Karena dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi tanpa dan atau alat kesehatan yang memiliki standar atau persyaratan keamanan khasiat atau kemanfaatan dan mutu," pungkasnya

Penulis: Sutono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved