Berita Malang Raya

Kota Batu akan Jadi Tuan Rumah Dialog Damai Buddha dan Islam

Asia Tenggara memiliki jumlah umat Buddha dan Muslim yang seimbang sehingga memainkan peran penting mempromosikan perdamaian dan harmoni

Kota Batu akan Jadi Tuan Rumah Dialog Damai Buddha dan Islam
surya/mohammad romadoni
Ilustrasi 

SURYA.co.id | KOTA BATU – Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha akan mengadakan International Conference on Buddhism pada 5 November 2019 di Hotel Royal Orchid Garden, Kota Batu.

Acara ini dilatar belakangi munculnya konflik dengan nama agama seperti yang terjadi di Rohingya.

Dalam rilis resmi yang dikeluarkan, tujuan konferensi ini adalah untuk memberikan perspektif baru tentang hubungan Buddha dan Muslim. Kedua, untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan agama antara Buddha dan Islam. 

Memahami pentingnya kerukunan beragama serta mengembangkan saling pengertian dan kolaborasi lebih lanjut antara agama komunitas. Asia Tenggara memiliki jumlah umat Buddha dan Muslim yang seimbang sehingga memainkan peran penting mempromosikan perdamaian dan harmoni

Selain itu, dalam konferensi itu juga akan ada peluncuran buku Perjumpaan Islam dan Buddha yang merupakan buah pemikiran dari Imtiyaz Yusuf. Bikkhu Jayamedho dibantu Aryanto Firnandi dari Sekolah Tinggi Agama Buddha mengambil inisiatif untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku ini.

Ketua STAB Kertarajasa, Dr Santacitto mengatakan, bahwa buku tersebut merupakan kumpulan tulisan ilmiah Imtiyaz Yusuf, seorang cendekiawan Islam namun sangat memahami ajaran Buddha. Kata Santacitto, Bhikkhu Jayamedho sangat mengenal Imtiyaz sejak lama.

“Sehingga memiliki pengertian dan pemahaman yang selaras dengan yang diharapakan Imtiyaz Yusuf tentang bagaimana mendekatkan dan memperkokoh hubungan umat Buddha dan umat Islam, karena umat Buddha di Indonesia minoritas dan umat Islam mayoritas,” katanya.

Selain itu, mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin juga direncanakan hadir sebagai pembicara utama. Konferensi ini cukup representatif karena menampilkan relasi Islam dan Buddha di Asia Tenggara dengan hadirnya sejumlah pembicara berlatar akademisi, tokoh agama, dan aktivis dari Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Malaysia.

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada Nusya Kuswantin memaparkan mendiskusikan hubungan antaragama akan menghasilkan kesimpulan yang bias karena mayoritas dan minoritas memiliki sindrom tersendiri.

“Perasaan takut atau terancam oleh adanya sesuatu yang baru adalah sindrom bagi mayoritas, sementara sikap mengalah serta kecenderungan untuk tidak menuntut hak-hak mereka untuk keadilan biasanya ada pada minoritas,” terangnya.

Sementara Wahyudi Akmaliyah peneliti dari LIPI berpendapat menceritakan Islam sebagai agama kemanusiaan dan juga Buddha sebagai salah satu akar kontribusi budaya Indonesi di media sosial, merupakan hal penting.

“khususnya untuk membangun algoritme baru tentang isu kerukunan umat beragama,” katanya. 

Penulis: Benni Indo
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved