Berita Surabaya

Intonasi Risma Langsung Meninggi saat Jawab Interupsi Dewan Soal Mafia Perizinan, 'Itu Fitnah'

Sekertaris Fraksi Demokrat Nasdem Imam Syafi'i meminta tanggapan Wali Kota Risma atas mafia perizinan.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: irwan sy
nuraini faiq/surya
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menghadiri rapat Paripurna di DPRD Surabaya, Kamis (31/10/2019). Risma dua kali diinterupsi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Rapat paripurna dengan agenda tanggapan pandangan umum Fraksi atas nota RAPBD Surabaya 2020 di gedung DPRD Surabaya berakhir dengan interupsi, Kamis (31/10/2019). Sekertaris Fraksi Demokrat Nasdem Imam Syafi'i meminta tanggapan Wali Kota Risma atas mafia perizinan.

Imam menyebut Jalan Gubeng ambles hingga beroperasinya SPBU di tengah kota Jalan Pemuda ada yang menyebut terkait mafia perizinan. Dia minta penjelasan Risma.

"Sebagaimana dalam pandangan umum fraksi kami bahwa Ibu Wali perlu menjelaskan soal pandangan umum fraksi kami soal mafia perizinan biar tidak ada persoalan di kemudian hari," ungkap Imam. 

Interupsi Imam itu disampaikan saat Risma mengakhiri pandangan umum.

Di pengujung forum itu Risma pun menjawab bahwa semua perizinan di Surabaya sudah dengan sistem online. 

"Insyaallah tidak ada itu (mafia perizinan). Lalu dikaitkan dengan anak saya (soal Jalan gubeng ambles), itu hanya fitnah. Jangan percaya fitnah," kata Risma.

Seluruh peserta sidang paripurna pun terdiam dan berkonsentrasi penuh mendengarkan jawaban Risma.

Berbeda saat wali kota perempuan pertama ini membacakan jawaban atas pandangan umum Fraksi.

Sorot media pun fokus pada jawaban Risma atas interupsi Imam. 

Kembali Risma menuturkan bahwa dirinya akan kaya jika mau bermain dalam perizinan.

Di Pemkot Surabaya proses perizinan dan lelang didampingi kejaksaan. 

"Jadi tolong, kami jangan difitnah kalau kami tidak melakukannya. Insyaallah tidak akan ada permainan perizinan. Tapi kalau fitnah itu tidak benar saya berharap akan kembali ke yang melakukan fitnah," kata Riama dengan intonasi meninggi. 

Risma mengaku ia sudah berusaha membangun kota Surabaya dengan berdarah-darah hingga sampai saat ini.

"Saya pernah juga diturunkan di sini (DPRD). Tapi saya tidak takut. Kenapa saya harus takut. Saya tidak mengejar jabatan. Saya pernah memegang dana proyek Rp 2 T, namun semua berjalan seusuai aturan," ujar Risma. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved