Berita Blitar

Akibat Kemarau Panjang, Puluhan Ribu Jiwa di Blitar Terkena ISPA, 20.000 di Antaranya Balita

Tahun lalu, ada 43 ribuan jiwa yang terkena infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di Blitar, tahun 2019 ini meningkat

Akibat Kemarau Panjang, Puluhan Ribu Jiwa di Blitar Terkena ISPA, 20.000 di Antaranya Balita
freepik.com/Jcomp
ILUSTRASI ISPA - Ilustrasi perempuan yang menderika infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 

SURYA.co.id | BLITAR - Bagi orang tua sebaiknya harus pandai-pandai menjaga kesehatan anaknya terutama dari dampak yang ditimbulkan akibat kemarau panjang seperti sekarang ini.

Selain mudah terkena dehindrasi (kekurangan cairan, red), dampak satu lagi adalah penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) serta flu dan batuk.

Sedikitnya ada 63.863 jiwa di Kabupaten Blitar saat ini terkena penyakit ISPA. Celakanya, dari jumlah itu, 20.000 di antaranya adalah balita. Mereka kini menderita penyakit yang ditimbulkan dari polusi debu tersebut.

Jumlah sebanyak itu diketahui dari masyarakat yang sudah berobat ke puskemas dan kebanyakan dari penderitanya itu didominasi dari Kecamatan Sanan Kulon.

Khusus di kecamatan yang berbatasan dengan kota itu ada 9.255 penderita, dengan didominasi balita atau anak di atas usia 5 tahun atau anak-anak setingkat sekolah dasar.

"Jumlah segitu itu tergolong cukup banyak karena tahun lalu hanya sekitar 43 ribuan yang terkena ISPA," kata Krisna Yekti, Kabid P2P (Pencegahan Penanggulangan Penyakit) Dinkes Kabupaten Blitar, Rabu (30/10/2019).

Menurutnya, meski tergolong cukup tinggi penderita ISPA tahun ini, namun hal itu dengan cepat bisa antisipasi.

Sebab, selain sudah dilakukan imbauan-imbauan dari tim medis, juga kesadaran masyarakat saat ini sudah cukup tinggi. Begitu mengalami gejala batuk-batuk atau flu, kebanyakan mereka sudah cepat-cepat datang ke puskemas. Karena itu, tak ada yang sampai mengalami akut meski sempat dirawat di rumah sakit.

Namun demikian, Krisna mengimbau kepada orang tua agar mengantisipasi kesehatan anaknya.

"Misalnya, pada siang hari, jangan sampai anak-anak diajak beraktivitas ke luar rumah sembarangan. Paling tidak, kalau terpaksa, ya harus diberi masker karena pada siang hari seperti saat ini, panasnya sangat menyengat. Dan, itu mudah membuat tubuh anak mengalami dehindrasi sehingga rentan terkena berbagai penyakit terutama batuk atau flu akibat dampak polusi," ungkapnya.

Selain itu, Krisna juga mengimbau, anak-anak sebaiknya dicegah untuk bermain pada siang hari dan lebih baik dijaga di dalam rumah.

Sebab, semakin banyak beraktivitas, maka daya tahan tubuhnya semakin rentan terkena ISPA karena tubuhnya kekurangan cairan.

"Kalau bisa, baik saat berada di sekolah maupun di rumah, jam bermainnya dikurangi dan lebih baik, jam istirahatnya ditambah karena cuacanya memang cukup panas sehingga harus dihindari kegiatan yang berat-berat, supaya kesehatannya terjaga dengan baik," paparnya.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved