Citizen Reporter

Mengenal Sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo

Karaton yang sering disebut keraton dikelilingi dengan pagar beton yang menjulang tinggi.

Mengenal Sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo
ist/Citizen Reporter
Mengenal Sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat 

SURYA.co.id - Rombongan guru MI Darul Huda Kedundung Kota Mojokerto berkunjung ke Karaton Surakarta Hadiningrat, Solo, Selasa (15/10/2019).

Dari pemberhentian bus, pengunjung bisa menumpang becak atau berjalan kaki.

Bangunan berarsitektur Jawa-Eropa itu berwarna biru dan putih.

Karaton yang sering disebut keraton dikelilingi dengan pagar beton yang menjulang tinggi.

Harga karcisnya Rp 8.000 untuk setiap pengunjung. Ada abdi dalem yang mendampingi dengan berbahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa halus.

"Karaton merupakan tempat tinggal ratu. Ratu di sini adalah raja. Fungsinya sebagai tempat kediaman resmi susuhunan Pakubuwono (PB) beserta keluarganya. Karaton Surakarta adalah kelanjutan dari Karaton Mataram," tutur abdi dalem.

Ia melanjutkan, perselisihan keluarga antara Pangeran Mangkubumi, PB II, dan Raden Mas Said (putera Pangeran Mangkunegoro) menyebabkan pembagian tiga kekuasaan yang tertuang di Babad Giyanti (1755 M) dan perjanjian Salatiga (1757 M).

Karaton Mataram terpecah menjadi tiga tempat yaitu Kadipaten Pura Mangkunegaran, Karaton Surakarta, dan Karaton Yogyakarta.

Di dalam bangunan lawas itu ada benda-benda bersejarah seperti fosil tengkorak kerbau bule yang bernama Kyai Slamet. Kyai Slamet pemberian dari Bupati Ponorogo.

Tujuannya untuk membawa barang pusaka saat Karaton Kartasura direbut oleh Mas Garendi.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved