Breaking News:

Berita Surabaya

Kadinkes Pastikan Tak Ada KLB Difteri di Jatim: Bayi dan Calon Pengantin Diwajibkan Imunisasi

Kadinkes Jatim: Masih banyak anak-anak atau pun masyarakat yang belum melakukan imunisasi lengkap. Sehingga bisa terkena difteri

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id/Fatimatuz Zahro
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Kohar Hari Santoso. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jawa Timur, Kohar Hari Santoso memastikan tidak ada status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Jatim.

Status tersebut termasuk kasus carrier difteri yang terjadi pada 200 pelajar di Malang.

“Jadi sebenarnya itu kekhawatiran dari para siswa yang kemudian memiliki inisiatif untuk memeriksakan diri. Saat ini sudah tertangani dengan baik dan upaya pencegahannya sudah kita lakukan,” ucap Kohar, Senin (28/10/2019)

Diketahui Dinas Kesehatan Kota Malang kini telah memberikan profilaksis dengan eritromisin kepada para penderita carrier difteri.

Hal tersebut untuk membunuh kuman yang dibawa oleh penderita carrier difteri agar tidak menularkannya ke orang lain.

Kohar juga  meminta kepada masyarakat agar tidak terlalu panik dengan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, selain di Malang beberapa kasus difteri ditemukan di beberapa daerah lain.

Hingga 25 Oktober, ada 26 kasus ditemukan masing-masing di Bangkalan dan Surabaya, kemudian Lumajang 21 kasus.

“Sedangkan di Malang hanya 10 kasus dan hingga saat ini tidak ada peningkatan yang tajam. Jadi belum begitu urgent untuk KLB,” ucapnya.

Karena sudah ditemukan sejumlah kasus yang ditemukan, Kohar mengimbau kepada masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh, makan makanan bergizi dan melakukan imunisasi.

“Masih banyak anak-anak atau pun masyarakat yang belum melakukan imunisasi lengkap. Sehingga bisa terkena difteri,” kata Kohar.

Ia juga mengatakan, akan mengadakan bulan imunisasi anak  pada November mendatang. Untuk pencegahan penyakit difteri dengan memberikan imunisasi kepada para siswa di sekolah-sekolah. 

“Difteri ini bisa dicegah melalui imunisasi. Maka dari itu, nanti akan kami gelar bertahap selama sebulan penuh. Jadi bukan hanya siswa saja yang diwajibkan mengikuti imunisasi, tapi semua bayi dan wanita usia subur termasuk calon pengantin diwajibkan untuk mengikuti imunisasi,” jelasnya.

Menurut Kohar yang terpenting saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kewaspadaan, mulai dari memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara pencegahan dan imunisasi rutin.

Kemudian mengoptimalkan assessment evaluasi surveilans epidemiologi.

“Kalau ini dilakukan dengan baik, saya rasa difteri bisa dicegah,” katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved