Single Focus

Antisipasi Fenomena Tawuran Antargeng, SMPN 1 Surabaya Rutin Sidak Konten Gawai Siswa

SMP Negari 1 Surabaya, yang tak ingin murid-muridnya terjerumus ke hal-hal negatif, termasuk tawuran.

Antisipasi Fenomena Tawuran Antargeng, SMPN 1 Surabaya Rutin Sidak Konten Gawai Siswa
surya.co.id/ahmad zaimul haq
TEMAN CURHAT - Konselor Sebaya SMPN 1 Surabaya saat membuka konsultasi, Jumat (18/10). Konselor Sebaya dibentuk Pemkot salah satunya untuk melindungi anak dari pengaruh negatif akibat pergaulan yang salah di lingkungannya dan membantu mengurangi potensi kenakalan remaja. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Fenomena tawuran antargeng di Surabaya, turut menjadi perhatian sekolah.

Salah satunya SMP Negari 1 Surabaya, yang tak ingin murid-muridnya terjerumus ke hal-hal negatif, termasuk tawuran.

Sekolah yang berada di kawasan Genteng ini menyiapkan trik-trik tersendiri supaya para guru bisa mengenal, sekaligus mengawasi siswa-siswanya dengan lebih baik lagi.

Titik Sudarti, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Surabaya mengatakan, hingga kini belum ada murid-muridnya yang 'katut' tawuran.

Meski begitu, pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk menghindari hal-hal semacam itu terjadi. Baik upaya preventif maupun yang kuratif.

"Upaya preventif selain lewat peraturan sekolah, juga komunikasi secara intensif bersama orang tua. Memang kami yang mengawasi siswa di sekolah, tetapi di rumah orang tua yang mengawasi," terang Titik, Minggu (20/10).

Tak hanya itu, ia juga kerap menggelar pelatihan maupun workshop terkait permasalahan psikologi dan santun bermedia sosial.

Keduanya ia giatkan selama setidaknya tiga tahun terakhir ini. Bahkan, Titik sering mendatangkan narasumber polisi maupun Badan Narkotika Nasional (BNN).

"Anak-anak harus diberi edukasi bagaimana memanfaatkan medsos dengan benar. Jangan sampai digunakan yang tidak positif," paparnya.

Untuk penanganan kuratif, pihaknya rutin sidak konten gawai dan sidak itu tidak diberitahu pada siswa. Setidaknya, sidak dua kali dalam sebulan.

"Kalau ada (konten gawainya -Red) yang menunjukkan tanda-tanda ke arah negatif dan butuh bantuan, kami akan koordinasi dengan orang tua dan wali kelas. Bisa juga kami hubungkan dengan psikolog, atau koordinasi dengan dinas, bila ada kejadian," ungkap Titik.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved