Berita Surabaya

Pengamat Sejarah Minta Pemkot Surabaya Pilih Sosok Aktif sebagai Pemimpin Museum 10 Nopember

Pengamat sejarah, Freddy Istanto minta Pemkot Surabaya memilih sosok yang aktif untuk dijadikan sebagai pemimpin Museum 10 Nopember

Pengamat Sejarah Minta Pemkot Surabaya Pilih Sosok Aktif sebagai Pemimpin Museum 10 Nopember
istimewa
Pengunjung melihat visualisasi tiga dimensi berupa hologram di Museum 10 Nopember Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki berbagai rencana untuk mempopulerkan museum sebagai destinasi wisata sejarah.

Mulai dari penambahan teknologi hologram di Museum 10 Nopember, pembangunan Museum Pendidikan, hingga rencana pembangunan Museum Olahraga.

Rencana-rencana ini pun disambut baik oleh pengamat sejarah, budaya dan cagar budaya, Freddy Istanto.

Meski begitu, ia berpesan agar pemkot menyerahkan kursi kepemimpinan museum pada orang-orang yang aktif dan visioner.

Dengan begitu, kesan kuno museum bisa terkikis.

"Jangan tempatkan pimpinan museum orang yang pasif," kata Freddy, Sabtu (19/10/2019).

Selain itu, sosok pemimpin yang visioner dapat mengolah dana museum dengan baik, meskipun dana tersebut terbatas.

Bahkan, bukan tidak mungkin museum menjadi satu di antara sumber pendapatan besar pemkot.

"Dana memang terbatas, jadi harus aktif menjemput bola. Museum harus menarik orang. Kuncinya di pimpinannya, program dari dia. Pimpinan tidak boleh memble. Harus ada kegiatan lain selain pameran," jelasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana akan meresmikan Museum Pendidikan pertamanya pada 10 November 2019.

Museum Pendidikan ini dibangun di aset tanah sekaligus bangunan eks Taman Siswa, yang merupakan bekas milik asing, Tiongkok.

Menurut Iman Krestian, Kepala Bidang Bangunan dan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) Kota Surabaya, pengerjaan museum tersebut memakan waktu cukup lama karena pemkot ingin mempertahankan bangunan aslinya.

"Masih berjalan. Memang agak lama karena proyeknya ini sifatnya rekonstruksi bangunan cagar budaya. Jadi ada beberapa komponen bangunan yang hilang atau rusak dan harus direplikasi, serta disesuaikan dengan eranya saat bangunan itu didirikan," jelas Iman.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Akira Tandika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved