Berita Surabaya

Akhol Firdaus Raih Soetandyo Award 2019, Sebelas Tahun Advokasi Kaum Minoritas

Akhol Firdaus terpilih sebagai penerima Soetandyo Award tahun 2019, setelah lebih dari 10 tahun berikan advokasi pada kaum minoritas.

Akhol Firdaus Raih Soetandyo Award 2019, Sebelas Tahun Advokasi Kaum Minoritas
SURYA.co.id/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dalam penyerahan penghargaan Soetandyo Award pada Akhol Firdaus, Sabtu (19/10/2019), di Gedung Garuda Mukti Universitas Airlangga, Kampus C, Surabaya. 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Akhol Firdaus terpilih sebagai penerima Soetandyo Award tahun 2019. Lebih dari sepuluh tahun memberikan advokasi dan perhatian pada kaum minoritas, ia dianggap sebagai sosok yang mampu mendesiminasikan semangat Soetandyo Wignjosoebroto, guru besar yang juga pendiri FISIP Unair.

Penghargaan Soetandyo Award tersebut diserahkan langsung pada Akhol Firdaus, Sabtu (19/10/2019), di Gedung Garuda Mukti Universitas Airlangga, Kampus C, Surabaya.

Pada Surya, Akhol mengaku sebenarnya dirinya merasa kurang pantas menerima penghargaan ini. Akan tetapi ia mengapresiasi adanya Soetandyo Award sebagai bentuk penghargaan pada tokoh yang mau memperjuangkan semangat kemanusiaan, dan mewujudkan civil society yang baik.

"Barangkali yang membuat saya dipertimbangkan dan akhirnya menerima penghargaan ini adalah karena saya menghabiskan waktu cukup panjang terlibat dalam advokasi kaum minoritas pemegang keyakinan dan agama di Indonesia," katanya.

Sejak 2008 Akhol intens dalam pemantauan isu kebebasan beragama atau berkeyakinan di Jawa Timur. Yang menghasilkan banyak laporan dan menghasilan integral di tingkat nasional.

"Baru di tahun 2013 saya fokus ke kalangan penghayat. Ternyata mereka ini sampai saat ini masih terjebak salam diskriminasi berat. Usia mereka terdiskriminasi sama dengan usia Indonesia merdeka," katanya.

Bahkan menurut Akhol, diskriminasi kaum penghayat menghasilkan situasi genosida kepercayaan agama lokal. Yang membuat mereka hampir punah. Lantaran merasa ketakutan dan dihantui tirani mayoritas.

Dengan mendapatkan penghargan ini, Akhol mengatakan bahwa pengahragaan ini didedikasikan untuk warga minoritas di Jawa Timur dan Indonesia. Ia menyontohkan saat ini masih ada kaum penghayat yang masih didiskriminasi. Misalnya masyarakat Syiah yang kini beluk diterima masyarakat.

"Saya dedikasikan penghargaan ini untuk warga minoritas khususnya kaum penghayat. Agar mereka tidak lagi terdiskriminasi dan mendapatkan ruang di masyarakat," ucapnya.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir dalam penganugerahan ini mengaku bahwa pihaknya memiliki kedekatan khusus dengan sosok Profesor Soetandyo.

Ia yang merupakan alumnus FISIP Unair tersebut mengatakan bahwa Prof Soetandyo adalah sosok yang memiliki pemikiran besar. Salah satu ajaran Prof Soetandyo yang hingga kini ia terapkan adalah hidup adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

"Itu adalah ajaran beliau yang hingga kini masih sering saya tukil dalam sambutan saya. Dengan itu, orang tidak eksklusif, melainkan harus open mind. Bahwa perubahan adalah sunatullah," kata Khofifah.

Ajaran itu membawa Khofifah tidak tertutup dan mau menjalin komunikasi lintas generasi. Tidak hanya dengan millenial tapi juga generasi Z, dan juga alfa.

"Maka meniscayakan perubahan itu bisa membuat kita jadi terbuka bisa berkomunikasi dan menerima pendapat. Tidak hanya pada level umur dan strata sosial. Nah saya mendapatkan pendalaman luar biasa dari beliau," katanya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Akira Tandika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved