Berita Tuban

Tradisi Kuras Sumur Peninggalan Wali di Tuban, Airnya Dipercaya Bisa Sembuhkan Segala Penyakit

Sumur yang dibangun sekitar tahun 1841 tersebut diberi nama Sumur Mbah Asyari, airnya tak pernah kering meski saat musim kemarau sekali pun.

Tradisi Kuras Sumur Peninggalan Wali di Tuban, Airnya Dipercaya Bisa Sembuhkan Segala Penyakit
SURYA.co.id/M Sudarsono
Kades Bejagung, Aang Sutan saat turun ke dasar Sumur Mbah Asyari menggunakan alat kerek untuk membersihkan sampah di dalamnya, Jumat (18/10/2019) 

SURYA.co.id | TUBAN - Sebuah sumur dengan kedalaman sekitar 35 meter menjadi ikon di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban.

Sumur yang dibangun sekitar tahun 1841 tersebut diberi nama Sumur Mbah Asyari (Sunan Bejagung Lor, red), airnya tak pernah kering meski saat musim kemarau sekali pun.

Bahkan air sumur dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit.

Itulah sebab jika tradisi membersihkan sumur yang dibuat oleh Mbah Pamong (santri Sunan Bejagung Lor, red) tetap dijalankan.

Kepala Desa Bejagung, Aang Sutan mengatakan sumur ini memang dipercaya mempunyai khasiat bisa mengobati berbagai penyakit.

Di antaranya penyakit gatal-gatal dan sejumlah penyakit lainnya.

Biasanya para peziarah di makam Sunan Bejagung Lor seusai ziarah mengambil air di sumur tersebut karena diyakini berkhasiat.

"Ini sumur keramat, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit," ujar Aang seusai memimpin prosesi kuras sumur, Jumat (18/10/2019).

Ia menjelaskan, untuk tradisi kuras sumur ini dilakukan setiap dua tahun sekali, tepatnya jatuh pada Jumat legi.

Untuk yang pertama turun ke dalam sumur untuk membersihkan sampah yang mengendap harus masih keturunan dari Mbah Pamong.

Proses penurunan orangnya menggunakan alat kerek, begitu pun pengangkatan sampah menggunakan Jong (bak dari bambu, red) juga dikerek.

Aneka macam sampah selama 24 bulan itu pun terangkat, ada batu, botol plastik hingga uang koin dari peziarah yang diceburkan ke sumur.

"Ya saya yang ngawali turun untuk membersihkan sampah di dalam sumur. Setelah itu nanti warga lain secara bergantian membersihkan," terang Aang.

Usai sampah di dalam sumur dibersihkan, selanjutnya akan dilakukan proses makan bersama warga dan gebyar minum es dawet yang dilakukan setelah salat jumat.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved