Berita Blitar

Karena Kupingnya Dijewer, Pria Asal Tulungagung Teror dan Ancam Bunuh Ketua Salawatan di Blitar

Teror ketua jamaah salawatan di Blitar lewat Facebook, pemuda asal Tulungagung ini minta ganti Rugi Kawasaki Ninja 250 CC

Karena Kupingnya Dijewer, Pria Asal Tulungagung Teror dan Ancam Bunuh Ketua Salawatan di Blitar
SURYA.co.id/Samsul Hadi
Riski bersama barang bukti Kawasaki Ninja 250 CC diamankan di Polres Blitar Kota, Rabu (16/10/2019). 

SURYA.co.id | BLITAR - Lantaran sakit hati, Riski (22) warga Desa Jeruk, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, nekat meneror Achmad Suntoko (59), ketua jamaah salawatan asal Dusun Subontoro, Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Akibat perbuatannya, pria lulusan SMA itu harus mendekam di sel tahanan Polres Blitar Kota, Rabu (16/10/2019).

"Pelaku meneror korban dan berujung pada pemerasan. Pelaku kami jerat pasal 369 KUHP tentang pemerasan," kata Kasat Reskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono.

Heri mengatakan, pelaku meneror korban melalui media sosial Facebook (FB). Pelaku membuat akun Facebook dengan profil orang lain untuk meneror korban. Pelaku mengirim pesan bernada ancaman dan kata-kata kotor ke korban.

"Pelaku mengancam akan membunuh korban. Pelaku dan korban sebenarnya sudah saling kenal. Pelaku ikut jamaah salawat yang dipimpin korban. Pelaku mengaku sakit hati karena pernah dijewer kupingnya oleh korban," ujar Heri.

Karena risih terus diteror, akhirnya korban berusaha mencari tahu siapa pemilik akun Facebook itu. Korban memancing pelaku dengan cara memberi tawaran ganti rugi. Pelaku tertarik dengan tawaran dari korban.

Pelaku meminta uang ganti rugi sebesar Rp 50 juta ke korban. Karena tidak punya uang senilai itu, korban menawarkan sepeda motor Kawasaki Ninja 250 CC kepada pelaku. Pelaku menerima tawaran sepeda motor dari korban.

Tetapi, sebelum menyerahkan sepeda motor ke pelaku, korban berkoordinasi dengan polisi. Begitu korban bertemu dengan pelaku untuk menyerahkan sepeda motor, polisi meringkusnya.

"Pelaku mengaku baru sekali ini berbuat seperti itu," katanya.

Kepada wartawan, Riski mengaku sakit hati kepada korban. Riski pernah ditegur korban terkait postingan status di Facebook.

Korban memperingatkan Riski agar memposting status yang baik-baik di Facebook.

"Saya tersinggung, akhirnya saya membuat akun palsu untuk meneror korban. Saya punya enam akun Facebook, yang lima akun palsu dengan nama samaran. Akun palsu itu saya gunakan untuk meneror korban," ujar Riski mengaku.

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved