Berita Trenggalek

Dilema 72 Pasien Cuci Darah di Trenggalek Apabila Permenkes Nomor 30 Tahun 2019 Diterapkan

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2019, layanan hemodialisis hanya bisa dijalankan di rumah sakit tipe A dan tipe B

Dilema 72 Pasien Cuci Darah di Trenggalek Apabila Permenkes Nomor 30 Tahun 2019 Diterapkan
SURYA.co.id/Aflahul Abidin
Suasana pelayanan hemodialisis di RSUD dr Soedomo, Senin (14/10/2019). 

SURYA.co.id | TRENGGALEK – Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit akan berdampak pada layanan hemodialisis atau cuci darah di Trenggalek.

Dalam aturan baru itu, layanan tersebut hanya bisa dijalankan di rumah sakit tipe A dan tipe B. Sementara, Kabupaten Trenggalek tidak memiliki rumah sakit kedua tipe tersebut.

Padahal, ada sekitar 72 pasien rutin cuci darah di RSUD dr Soedomo Kabupaten Trenggalek. Rumah sakit tersebut merupakan satu-satunya rumah sakit tipe C di Trenggalek.

Kepala Instalasi Hemodialisis RSUD dr Soedomo, dr Agus Dahana SpPD mengatakan layanan cuci darah di rumah sakit itu sudah berjalan sejak 2014.

“Kami melakukan tindakan hemodialisis sekitar 600 tindakan per bulan,” kata Agus, ditemui di tempat kerjanya, Senin (14/10/2019).

Rumah sakit itu punya 12 mesin cuci darah. Sebanyak 11 mesin rutin dipakai. Sementara satu mesin sebagai cadangan. Satu mesin ini hanya dipakai ketika ada kebutuhan gawat.

“Karena banyak permintaan, ada 150 pasien yang masih daftar tunggu. Daftar tunggu artinya mereka pasien asal Trenggalek yang melakukan hemodialisis di tempat lain. Jadi mereka antre untuk mendapatkan layanan di sini,” ungkapnya.

Pihaknya saat ini masih menunggu terkait aturan baru yang terutang dari Permenkes nomor 30 tahun 2019.

“Kami berharap pemerintah akan punya solusi terbaik. Jadi, kalau RS tipe C tidak bisa melayani, ada dua alternatif, kami harus meningkatkan menjadi RS tipe B,atau ada kebijakan seperti apa sehingga membuat pasien bisa dilayani,” ungkapnya.

Cuci darah, lanjut dia, merupakan tindakan yang berisiko tinggi. Setiap tindakan harus dimulai dengan edukasi ke keluarga pasien. Petugas juga harus menjalankan proses seaman mungkin.

“Layanan hemodialisis cuma di sini. Di Trenggalek hanya ada satu RS tipe C,” ungkap dia.

Humas RSUD dr Soedomo, Sujiono mengatakan RSUD dr Soedomo masih punya waktu satu tahun dalam rangka peningkatan tipe atau klasifikasi rumah sakit sesuai aturan Permenkes itu.

Untuk menjadi tipe B, rumah sakit tersebut harus menambah jumlah dokter sub-spesialis.

“Secara prasarana sudah mencukupi. Jumlah tempat tidur dan peralatan medis lain. Yang menjadi masalah adalah keterbatasan SDM (Sumber Daya manusia). Di mana, salah satu yang penting dan kami belum punya adalah sub-spesialis gigi, seperti bedah mulut,” ujar Sujiono.

Mencari dokter dengan spesialisasi yang dimaksud,  Sujiono mengakui cukup sulit.

“Insyaa Allah tambah 2-3 dokter sub-spesialis sudah cukup,” ucapnya.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved