Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto, 'Nanti Bisa Jadi Hoax,' Katanya

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo ikut angkat bicara terkait kasus penusukan yang menimpa Wiranto

Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto, 'Nanti Bisa Jadi Hoax,' Katanya
Kolase Youtube TVOne dan Kompas.com
Ilustrasi Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto 

"Evaluasi prosedur pengamanan VVIP, cek ulang peta simpatisan atau orang orang yang terpapar faham terorisme, dan segera lakukan pencegahan dini, " kata Ridlwan.

Meski begitu Ridlwan berharap serangan teroris terhadap Menkopolhukam Wiranto tidak menimbulkan kepanikan dan ketakutan di masyarakat.

"Tujuan kelompok-kelompok teroris memang ingin menyebarkan rasa takut, saling curiga bahkan konflik antar warga, ini harus dilawan dengan kekompakan semua elemen bangsa, " katanya.

Kepala BIN Ungkap Motif Penusukan Wiranto

Di sisi lain, Kepala BIN Budi Gunawan mengatakan, motif penikaman terhadap Wiranto oleh jaringan teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah untuk menunjukkan bahwa mereka masih eksis.

Budi G memastikan hal tersebut setelah pihaknya melakukan pemantauan secara intensif terhadap salah satu pelaku penyerangan, Abu Rara.

"Abu Rara sudah kita pantau beberapa kali mulai mengumpulkan pisau.

"Belum pada tahapan bom, tapi pola-pola seperti itu bisa juga dengan pisau senjata," ucap Kepala BIN Budi Gunawan di Gedung Paviliun RSPAD Gatot Subroto, Kamis (10/10/2019) mengutip Warta Kota.

Selain itu, Budi Gunawan meyakini bahwa jaringan Abu Rara turut menyertakan banyak kelompok teroris yang tersebar di Indonesia.

Pasalnya, pelaku kerap berpindah-pindah tempat tinggal serta terdapat kaitannya dengan jaringan teroris yang telah diamankan Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Bekasi, Jawa Barat pada, Senin (23/9/2019).

"Ini sudah pasti dari kelompok jaringan JAD, khususnya jaringan JAD Bekasi.

"Dan memang sel-sel seperti ini cukup banyak, sehingga kami mengimbau agar masyarakat tidak ikut dan memantau mengawasi sel-sel seperti ini," jelasnya.

Menurut Budi Gunawan, dari awal sudah disampaikan bahwa BIN sudah mendeteksi kelompok-kelompok JAD.

Termasuk penusuk Wiranto bernama Syahril Alamsyah atau Abu Rara.

Namun, JAD memiliki sistem sel yang masing-masing bergerak sendiri-sendiri.

Sistem inilah yang menjadi kendala aparat memantau keseluruhan pergerakan mereka.

"Karena mereka pergerakannya sistem sel. Sel itu kan titik kecil-kecil, orang per orang," ujar dia.

Budi Gunawan mengatakan, jaringan JAD banyak tumbuh di tengah masyarakat.

Untuk itu, dia berharap masyarakat ikut mengawasi perkembangan jaringan tersebut.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved