Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto, 'Nanti Bisa Jadi Hoax,' Katanya

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo ikut angkat bicara terkait kasus penusukan yang menimpa Wiranto

Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto, 'Nanti Bisa Jadi Hoax,' Katanya
Kolase Youtube TVOne dan Kompas.com
Ilustrasi Peringatan Jenderal Gatot Nurmantyo Soal Kasus Penusukan Wiranto 

"Pelaku inisial S alias AR secara ideologi menolak Pancasila dan demokrasi, dan Menkopolhukam dianggap sebagai simbol Thaghut atau setan besar yang wajib diperangi," ujar peneliti terorisme UI Ridlwan Habib di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

"Mereka berpura-pura sebagai warga masyarakat yang menunggu mobil Menkopolhukam mendekat, jarak pelaku saat menunggu hanya 3 meter dari sasaran, ini kelengahan pihak pengamanan setempat, " lanjut Ridlwan.

Peneliti Terorisme UI Ridlwan Habib (kiri) Komentari Kasus Penusukan Jenderal TNI (Purn) Wiranto
Peneliti Terorisme UI Ridlwan Habib (kiri) Komentari Kasus Penusukan Jenderal TNI (Purn) Wiranto (Kolase TRIBUNNEWS/BIAN HARNANSA dan Istimewa)

Dari berbagai video maupun foto yang beredar di media sosial, tampak dua pelaku memang menunggu mobil Wiranto datang.

Keduanya berdiri tepat di samping Kapolsek.

"Jarak itu memungkinkan pelaku merangsek dari sudut kiri belakang pak Wiranto, sudut itu kosong karena ajudan menghadap ke kanan, " kata Ridlwan yang juga praktisi beladiri KravMaga tersebut.

Dari cara memegang senjata saat dihunjamkan kepada sasarannya, tampak pelaku cukup terlatih.

"Teroris itu memegang senjatanya dengan teknik reverse grip, atau pegangan terbalik yang mengakibatkan daya hunjaman dua kali lebih kuat dari gaya pegang biasa, " ujar alumni S2 Kajian Intelijen UI tersebut.

Ridlwan menilai, informasi kunjungan Wiranto ke desa Menes Pandeglang yang memicu kedua pelaku untuk beraksi.

"Itu jelas tidak spontan, ada niat jahat yang sudah direncanakan, termasuk teknik pelaku menyembunyikan senjata tanpa terdeteksi petugas keamanan setempat, " kata Ridlwan.

Kejadian ini menurutnya merupakan alarm bagi aparat keamanan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan.

Halaman
1234
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved