Berita Mojokerto

Kepala DPKP Mojokerto, Soelistiyowati Jadi Tersangka Kasus Korupsi Proyek Sumur Dangkal

Saat menjabat, yang bersangkutan mengendalikan secara penuh pelaksanaan kontrak dengan tidak sebagaimana mestinya. Negara rugi Rp 500 Juta lebih

Kepala DPKP Mojokerto, Soelistiyowati Jadi Tersangka Kasus Korupsi Proyek Sumur Dangkal
SURYA.co.id/Febrianto Ramadani
Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono bersama tim penyidik dalam konferensi pers, Jumat (11/10/2019). 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Tim penyidik Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto menetapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Mojokerto, Soelistiyowati (S) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Proyek Sumur Dangkal, Jumat (11/10/2019).

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono dalam rilisnya mengatakan, selain bertindak sebagai Kepala Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan, S juga menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tahun anggaran 2016 lalu.

Ruangan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Digeledah Kejari Kabupaten Mojokerto

"Dari pagu anggaran sebesar empat milyar seratus delapan puluh delapan juta rupiah, realisasi kontrak sebesar tiga milyar sembilan ratus enam puluh satu juta tiga puluh enam ribu rupiah. Pelaksanaan kegiatan tersebut, total dana yang sudah dicairkan sesuai dengan adendum kontrak sebesar dua milyar delapan ratus enam puluh empat juta seratus sembilan puluh ribu rupiah, " terangnya, Jumat (11/10/2019).

Kemudian, lanjut Rudy Hartono, tim penyidik yang dipimpin oleh Kasi Pidsus, Agus Hariono menemukan perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

"Saat menjabat sebagai PPK, S mengendalikan secara penuh pelaksanaan kontrak dengan tidak sebagaimana mestinya. Tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak sehingga, persentase penyerapan anggaran dari 38 titik hanya sebesar 68,57 persen," imbuhnya.

Atas temuan tersebut, lanjut Rudy Hartono, tim penyidik Kejari Kabupaten Mojokerto melakukan observasi lapangan dan evaluasi biaya pekerjaan bersama tim laboratorium Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional Malang.

"Kami menemukan selisih atau kekurangan volume pekerjaan sebesar lima ratus sembilan belas juta tujuh ratus enam belas ribu empat ratus rupiah," ujarnya.

Rudy Hartono juga menyampaikan, pihaknya masih mendalami pelaku lainnya yang diduga bekerja sama dengan tersangka Sa.

"Saudari S tidak bekerja sendiri, saya meminta kepada teman teman penyidik untuk mencari pihak lain yang turut serta mendampingi S dan mencari keuntungan bersama sama," tegasnya.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved