Berita Jember

Ini Peran Penting Perempuan dalam Pencegahan Radikalisme dan Ekstrimisme di Sekelilingnya

Karenanya, perempuan harus bisa mendeteksi dini tanda dan ciri radikalisme maupun ekstrimisme di sekelilingnya.

Ini Peran Penting Perempuan dalam Pencegahan Radikalisme dan Ekstrimisme di Sekelilingnya
surya.co.id/sri wahyunik
Kursus singkat bertajuk Perempuan dan Ekstrimisme yang digelar Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember, Kamis (10/10/2019). 

SURYA.co.id | JEMBER - Perempuan memiliki peran penting dalam gerakan deradikalisasi.

Karenanya, perempuan harus bisa mendeteksi dini tanda dan ciri radikalisme dan ektrimisme di sekelilingnya.

Mengenali tanda dan ciri ekstrimisme ini menjadi salah satu hal yang dikenalkan dalam kursus singkat bertajuk 'Perempuan dan Ekstrimisme' yang digelar Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember, Kamis (10/10/2019).

Kursus singkat itu merupakan rangkaian program dalam kegiatan Festival Literasi Nusantara untuk memperingati Dies Natalis Unej ke-55.

Direktur AMAN (The Asian Muslim Action Network) Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah menjadi pemateri kursus singkat 'Perempuan dan Penecegahan Ekstrimisme' tersebut.

Rubi, panggilan akrab perempuan itu, mengatakan masyarakat kerap gagap saat menghadapi persoalan ektrimisme.

Dia melihat, masyarakat Jawa Timur, misalnya, menjadi heboh kemudian tergopoh-gopoh ketika peristiwa bom bunuh diri terjadi di sejumlah gereja di Surabaya.

"Padahal ekstrimisme itu sudah ada sejak lama, organisasinya juga ada sejak jaman dahulu, hanya bermetamorfosa. Namun masyarakat merasa tidak ada sesuatu tentang itu. Kemudian baru heboh, dan tergopoh saat ada peristiwa. Contoh di Jawa Timur, saat terjadi bom bunuh diri di Surabaya," ujar Rubi.

Dari situlah, dia melihat ada sesuatu yang keliru tentang pemahaman radikalisme.
Salah satunya, lanjut Rubi, karena pendekatan yang dipakai negara tentang ektrimisme itu masih sentralistik.

"Sementara gerakan ektrimisme, jika melihat kasus Surabaya itu, sudah berubah. Karena tidak hanya dilakukan laki-laki, namun oleh satu keluarga. Artinya suami, melibatkan istri, yang kemudian juga anak-anak dilibatkan. Dari sinilah, akhirnya pemahaman tentang ekstrimisme dan bagaimana pencegahannya tidak lagi hanya melibatkan laki-laki, namun juga peran perempuan," tegasnya.

Karena, imbuhnya, perempuan bisa mengambil peran untuk gerakan deradikalisasi.
Dalam kursus singkat tersebut, peserta kursus diberi pemahaman tentang sejarah ekstrimisme di Indonesia, tren perubahan peran perempuan dalam ektrimisme, juga peran masyarakat dalam pencegahan ekstrimisme.

Peserta juga diajak mengenali tanda-tanda ektrimisme.

Ketua LP3M Unej Ahmad Taufik mengatakan Festival Literasi Nusantara merupakan kegiatan untuk membuka cakrawala civitas akademika, juga kelompok masyarakat di luar kampus.

"Ini sudah kegiatan ketiga dalam Festival Literasi Nusantara. Kami merasa literasi tentang pencegahan ekstrimisme ini penting, terutama melibatkan perempuan. Harapan kami, bagaimana wawasan perempuan dan gerakan anti kekerasan ini tersampaikan. Karena perempuan sangat berperan penting dalam pencegahan ekstrimisme juga," tegas Taufik.

Peserta kursus singkat 'Perempuan dan Pencegahan Ekstrimisme' itu diikuti oleh sekitar 60 orang, yang terdiri atas civitas akademika kampus, juga kelompok organisasi masyarakat.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved