Sambang Kampung

Produk Lukisan Ampas Kopi Warga Kampung Tambak Arum Surabaya, Sudah Dibeli Hingga Jakarta

ampas kopi yang tidak terpakai disulap menjadi lukisan yang bernilai jual oleh Sudarsono, warga Kampung Tambah Arum

Produk Lukisan Ampas Kopi Warga Kampung Tambak Arum Surabaya, Sudah Dibeli Hingga Jakarta
surya/sugiharto
Warga Tambak Arum memamerkan karyanya yang terbuat dari ampas kopi di rumahnya yang ada di Tambak Arum III Surabaya, Rabu (9/10/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di tangan Sudarsono, warga Kampung Tambak Arum RW 2 Kelurahan Tambakrejo, ampas kopi yang tidak terpakai disulap menjadi lukisan yang bernilai jual. Selain unik, produk karya mantan sopir pabrik roti ini memanfaatkan media dan material yang sudah tidak terpakai. Aroma kopi yang khas pun tercium dalam karyanya itu.

"Saya mulai melukis dari ampas kopi sejak 2015. Awalnya nggak sengaja karena melihat ampas kopi yang dibuang oleh istri saya, kan istri saya jualan (minuman) kopi," ungkap Sudarsono.

Ketika itu, lanjutnya, ia merasa sayang melihat banyaknya ampas kopi yang terbuang. Akhirnya, ia meminta istrinya untuk menyimpannya setelah dikeringkan.

Warga Kampung Tambak Arum Surabaya Ubah Sampah Jadi Busana Daur Ulang, Jadi Tambahan Uang

"Lalu saya coba-coba melukis pakai ampas kopi yang sudah kering itu di atas triplek. Ternyata hasilnya bagus," Sudarsono mengatakan.

Sebagian besar, karya lukis Sudarsono berbentuk kaligrafi. Ia tertarik dengan beragam bentuk seni melukis huruf Arab itu, mulai dari  kapal hingga beragam bentuk asimetris.

Namun, ia juga menghasilkan gambar lain seperti Garuda Pancasila.

"Cara membuatnya, pertama menyiapkan medianya terlebih dahulu. Kemudian digambar pola. Setelah itu dioleskan lem kayu dan ditaburi ampas kopi yang sudah berbentuk bubuk," Sudarsono mengatakan.

Selain menggunakan kopi, ia pun mengkombinasikannya menggunakan material yang lain agar lukisannya lebih berwarna. Di antaranya yaitu serbuk kayu, ampas teh, serabut kelapa, glitter, dan lainnya.

Ampas kopi yang ia gunakan, lanjutnya, sebelumnya dikeringkan di bawah terik matahari selama sehari. Kalau mendung, bisa sampai tiga hari.

Untuk satu lukisan, ia membandrol harga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, tergantung kesulitannya. Dalam satu bulan, ia biasanya memproduksi lima sampai dua puluh lukisan, juga tergantung kesulitannya.

Halaman
12
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved