Pesarean Aer Mata, Makam Kerajaan Madura di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan

Pasarean Aer Mata merupakan salah satu tempat makam kerajaan Madura yang terletak di Desa Buduran

Pesarean Aer Mata, Makam Kerajaan Madura di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan
Ist/Citizen Reporter
Pesarean Aer Mata, Makam Kerajaan Madura di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Pamekasan. 

SURYA.co.id - Pasarean Aer Mata merupakan salah satu tempat makam kerajaan Madura yang terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.

Di tempat inilah Ratu Madura (Rato Ebu) Syarifah Ambami, dimakamkan.

Rato Ebu adalah istri Pangeran Cakraningrat I yakni Raja Madura pada 1624.

Namun seiring melesatnya perkembangan globalisasi, nilai-nilai sejarah kerajaan Madura justru menjadi semakin memudar bahkan di kalangan masyarakat Madura.

Faktanya, sebagian remaja Madura merasa asing tentang sejarah asal muasal Pasarean Aer Mata.

Itu yang mendasari mahasiswa Sastra Inggris semester 7 Universitas Trunojoyo Madura membentuk kelompok Interpreting untuk mencari informasi dan terjun langsung ke desa-desa di Madura yang memiliki sejarah kepurbakalaan.

Pesarean Aer Mata, Makam Kerajaan Madura di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan
Pesarean Aer Mata, Makam Kerajaan Madura di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan (ist/Citizen Reporter)

Menurut Moh Suhri (60), juru kunci Pasarean Aer Mata Ebu, Desa Buduran dulu menjadi tempat pertapaan Rato Ebu ketika ditinggal bertugas oleh Pangeran Cakraningrat I ke Mataram.

Dalam pertapaannya, Rato Ebu memohon semoga tujuh keturunannya dapat menjadi penguasa pemerintahan Madura.

“Suatu hari ia bermimpi bertemu Nabi Khidir AS dengan membawa kabar, permohonannya akan diijabah. Setelah mendengar cerita itu dari Sang Rato Ebu, Pangeran Cakraningrat I kecewa mengapa istrinya hanya memohon untuk tujuh keturunannya,” kata Suhri, yang ditemui Sabtu (28/9/2019).

Suhri menambahkan, Rato Ebu pun merasa bersalah dan kembali ke pertapaannya memohon agar dosa-dosanya diampuni sambil terus menangis sampai-sampai air matanya membanjiri tempat pertapaannya dan membentuk ‘sendang’ atau sumber.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved