Perantau Asal Malang Trauma Kerusuhan di Wamena Papua. Menolak Kembali

“Saya trauma. Saya tidak ingin kembali,” ujar Nisi, perantau Wamena ketika ditemui di Lanud Abd Saleh, Kabupaten Malang, Rabu (9/10/2019).

Perantau Asal Malang Trauma Kerusuhan di Wamena Papua. Menolak Kembali
surya.co.id/fatimatuz zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut kedatangan para perantau Jawa Timur dari Wamena yang baru tiba dan diberikan bantuan, Rabu (2/10/2019). 

SURYA.co.id | MALANG - Dua pekan setelah kerusuhan, kondisi di Wamena, Papua, berangsur membaik. Namun sebagian pengungsi enggan kembali ke ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu.

“Saya trauma. Saya tidak ingin kembali,” ujar Nisi ketika ditemui di Lanud Abd Saleh, Kabupaten Malang, Rabu (9/10/2019).

Nisi adalah salah satu perantau asal Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Ia adalah salah satu pengungsi dari Wamena yang tiba di Lanud Abd Saleh hari ini.

Meskipun tak mengalami hal mengerikan seperti pembakaran rumah, Nisi mengatakan suasana kerusuhan di Wamena sangat mencekam. Perempuan 43 tahun itu melihat rumah-rumah dibakar dan mendengar banyak orang dibunuh.

Ia pun akhirnya memutuskan kembali ke Jawa dan meninggalkan harta bendanya yang ada di Wamena.

“Cuma bawa baju seadanya. Motor sudah saya tinggal. Sudah ndak mikir harta, asal bisa pulang,” cerita Nisi.

Nisi mengaku mengungsi di Kodim selama sembilan hari sejak kerusuhan pecah. Setelah itu, ia diantar ke dan diterbangkan ke Jayapura. Di sana, ia menunggu giliran agar bisa kembali ke Jawa Timur.

“Di Jayapura kan antre. Akhirnya baru pulang sekarang,” ujarnya.

Pengungsi lain, Sali, menyatakan hal serupa. Pria 38 tahun ini nyaris menjadi korban pembakaran setelah puluhan massa mengepung rumahnya di Jalan SD Percobaan.

“Saya lari dan sembunyi di dalam got. Penuh lumpur dan sampah tidak masalah,” kisah Sali.

Halaman
12
Tags
Wamena
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved