Citizen Reporter

Kisah Bhuju’ Hamsia Putri Raja Solo di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan

Menurut cerita, leluhur Desa Tanjung, Hamsia, Putri Raja Solo dibuang ayahnya yang seorang raja dan dihanyutkan ke laut.

Kisah Bhuju’ Hamsia Putri Raja Solo di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan
ist/citizen reporter
Kisah Bhuju’ Hamsia Putri Raja Solo di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan 

SURYA.co.id - Bhuju’ adalah makam dari leluhur yang sangat dihormati masyarakat Madura.

Bhuju’ sering dianggap sebagai tempat keramat yang dipercaya sebagai tempat paling tepat untuk berdoa kepada-Nya dengan tujuan tertentu. Selain itu, juga untuk mendoakan arwah bhuju’nya.

Seiring berkembangnya zaman, bhuju’ mulai terlupakan dan tidak lagi dikenal di kalangan remaja.

Namun, mahasiwa Jurusan Sastra Inggris di Universitas Trunojoyo Madura bersemangat mencari tahu tentang bhuju’ melalui mata kuliah Madurese Studies.

Madurese Studies adalah mata kuliah yang mempelajari berbagai macam aspek kebudayaan Madura.

Mahasiswa dituntut untuk mencari informasi-informasi serta sejarah bhuju’ di Madura meliputi Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, dengan ketentuan bhuju’ yang belum dikenal banyak orang.

Itu untuk memperkenalkan keberadaan bhuju’-bhuju’ yang belum diketahui atau sulit jangkau masyarakat luar.

Di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan terdapat bhuju’ Hamsia putri raja Solo.

Bhuju’ itu merupakan salah satu contoh makam keramat yang sampai saat ini tetap dirawat masyarakat Tanjung. Letaknya di pesisir Pantai Jumiyang.

Menurut warga desa Tanjung, sejak adanya bhuju’ Hamsia, desanya sejahtera dan penghasilan dari para nelayan melimpah. Itu karena warga Tanjung tetap menjaga dan merawat bhuju’.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved