Berita Malang Raya

Cerita Sali, Enam Jam Sembunyi di Got Penuh Lumpur Agar Tak Ditangkap Perusuh di Wamena Papua

Hampir 6 jam bapak dua anak itu berdiam di dalam got. Selama itu, ia menangis dan merapal doa agar Tuhan memberinya kesempatan hidup.

Cerita Sali, Enam Jam Sembunyi di Got Penuh Lumpur Agar Tak Ditangkap Perusuh di Wamena Papua
suryamalang.tribunnews.com/aminatus sofya
Sali (38), warga Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang ketika tiba di Bakorwil Malang setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Wamena, Papua. 

SURYA.co.id | MALANG - Senin, 23 September 2019 menjadi salah satu hari yang tak akan dilupakan Sali. 

Di hari itu, pria 38 tahun asal kabupaten Lumajang tersebut nyaris saja menjadi korban kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua. 

Sali menceritakan, di hari nahas itu ia baru saja selesai mengantar penumpangnya ke Jalan Pattimura, Kota Wamena. Selang 15 menit, dia melihat kerusuhan pecah di dekat rumahnya di Jalan SD Percobaan.

Tak berapa lama, sejumlah massa datang mengepung tempat Sali tinggal dan membakar semua rumah.

“Saya berdelapan orang. Empat orang termasuk saya lari, empat lagi terjebak di dalam. Dua orang jadi korban,” cerita Sali ketika ditemui di Malang, Rabu (9/10/2019).

Sali bisa lolos dari amukan setelah bersembunyi di saluran air penuh sampah dan lumpur. Agar tak terlihat, dia tutup lubang saluran menggunakan semak dan ilalang.

“Hanya sedikit saya kasih sisa lubang. Buat nafas dan melihat keluar sesekali,” katanya.

Hampir enam jam bapak dua anak itu berdiam di dalam got. Selama itu, ia menangis dan merapal doa agar Tuhan memberinya kesempatan hidup.

“Saya berdoa supaya Tuhan kasih saya kesempatan ketemu anak dan istri di rumah. Soal harta benda, sudah saya ikhlaskan,” tuturnya.

Ketika kerusuhan mulai tak terdengar dan api sedikit redup, Sali lari ke rumah honai milik orang asli Wamena. Disana, ia ditolong oleh mama Papua dan diberi baju ganti.

“Waktu itu baju saya kan penuh lumpur. Setelah itu baru saya ke Kodim,” ucap Sali.

Sali mengatakan ia tak ingin kembali ke Wamena meskipun saat kondisi di sana berangsur pulih. Pria 38 tahun itu memilih bekerja di kampungnya dan dekat dengan anak istri.

“Sudah ndak pingin kembali mbak. Trauma saya. Sadis sekali waktu itu,” tutupnya.

Sunarto, Pria yang Pulang Setelah Mayatnya Dikuburkan

Pembunuh Penjaga SPBU di Jember Umumkan Kematian Korbannya Lewat Speaker Masjid

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved