Yadnya Karo, Tradisi Selain Kasada Masyarakat Tengger Bromo

Yadnya Karo atau Hari Raya Karo adalah hari raya selain Kasada yang dilaksanakan masyarakat Tengger di 28 desa kawasan Taman Nasional Bromo Tengger

Yadnya Karo, Tradisi Selain Kasada Masyarakat Tengger Bromo
ist/Citizen Reporter
Yadnya Karo, Tradisi Selain Kasada Masyarakat Tengger Bromo 

SURYA.co.id - Datang ke Bromo tidak saja untuk melihat keindahan matahari terbit dan alamnya.

Saatnya mengetahui kearifan lokal yang tetap dijaga oleh masyarakat Tengger meskipun mereka hidup di alam modern.

Yoni Astuti, tourist guide, menuturkan indahnya Bromo dari sisi budaya.

Sejak sore terlihat anak-anak, ibu, ayah, berjalan menuju ke Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggi membawa takir kawung, yaitu tas yang terbuat dari janur.

Takir kawung berisi juadah jagung, dodol, pipis (wajik), tetel ketan, madu mongso, dan lainnya.

Malamnya, para ayah menyusun takir kawung dan diletakkan berjajar di atas daun pisang yang ditata di karpet balai desa.

Di bawah daun pisang sudah diletakkan sesaji seperti nasi jagung putih, kacang ucet, sate jerohan sapi, dan ikan asin.

Masyarakat sedang menyiapkan acara Tari Sodoran, tarian sakral sebagai salah satu bagian dari Yadnya Karo.

Yadnya Karo atau Hari Raya Karo adalah hari raya selain Kasada yang dilaksanakan masyarakat Tengger di 28 desa kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, setiap bulan Karo di kalender Tengger.

Karo artinya kedua. Tiga desa yaitu Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak melaksanakan Tari Sodoran bergantian setiap tahun.

Tahun ini giliran Desa Jetak. Tiga desa itu memiliki Jimat Klontongan, yaitu warisan leluhur berupa Sodor.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved