Berita Gresik

3 Tahun Tanpa Kejelasan, Warga Unjuk Rasa Tuntut Perusahaan Bongkar Muat Batu Bara Segera Relokasi

Menurut warga terdampak, hampir selama tiga tahun, belum ada rencana relokasi. Bahkan, warga seakan-akan dibenturkan dengan tetangga sendiri.

3 Tahun Tanpa Kejelasan, Warga Unjuk Rasa Tuntut Perusahaan Bongkar Muat Batu Bara Segera Relokasi
SURYA.co.id/Sugiyono
PROTES - Warga terdampak membentangkan spanduk berisi tuntutan agar perusahaan bongkar muat batu bara segera relokasi, di Jalan RE Martadinata, Kecamatan Gresik, Sabtu (5/10/2019). 

SURYA.co.id | GRESIK - Warga di Kecamatan Gresik yang terdampak polusi batu bara kembali berunjuk rasa, mereka meminta pabrik bongkar muat batu bara segera relokasi.

Dengan membentangkan spanduk tuntutan, massa warga menuju pabrik bongkar muat batu bara PT Gresik Jasa Tama (GJT), di Jalan RE Martadinata, Kecamatan Gresik.

"Warga hanya ingin hasil kesepakatan yang sudah dibuat oleh PT GJT dengan warga pada tahun 2016 dilaksanakan. Salah satunya yaitu setelah Pelabuhan JIIPE di Manyar beroperasi, maka GJT siap relokasi," kata Abdul Malik, tokoh masyarakat Kelurahan Kroman yang ditunjuk warga sebagai Ketua Forum warga terdampak batu bara, Sabtu (5/10/2019).

Menurut Malik, hampir selama tiga tahun, belum ada rencana relokasi. Bahkan, warga seakan-akan dibenturkan dengan tetangga sendiri.

"Caranya dengan membuat forum baru dan memperbolehkan truk muatan batu bara melintas dengan menerima anggaran CSR," imbuhnya.

Akhirnya, warga terdampak debu batu bara dari Kelurahan Kroman, Pekelingan dan Lumpur berkumpul untuk berunjuk rasa di depan PT GJT.

Warga juga meminta pihak manajemen hadir untuk menemui perwakilan warga. Namun, dari pihak perusahaan GJT hanya diwakilkan seorang staf.

Warga juga dibuat marah, sebab pada malam hari truk muatan batu bara nekat melintas. Sehingga, warga melempar batu ke dump truk hingga kaca depan pecah.

"Semalam warga dibuat emosi, sebab truk nekat melintas, sehingga secara ramai-ramai warga melempar batu ke truk, sampai kaca depan dump truk pecah," imbuhnya.

Sementara, dari pihak kepolisian Pelabuhan Gresik yang dipimpin AKP Jannah bersama Camat meredam keinginan warga.

Sehingga, warga memperbolehkan dump truk yang sudah bermuatan batu bara untuk meninggalkan parkiran dan tidak diperbolehkan kembali.

"Kita beri kesempatan untuk mengosongkan area bongkar muat batu bara, setelah ini harus dilakukan relokasi sesuai dengan hasil kesepakatan," katanya.

Sementara AKP Jannah mengatakan, warga dipersilakan untuk menyampaikan aspirasi pada rapat besok bersama jajaran perusahaan.

"Saya tidak membela siapa-siapa, silakan tulis semua permintaan, besok saat rapat dengan manajemen PT GJT bisa disampaikan," kata Jannah.

Setelah tidak ada pihak manajemen PT GJT menemui warga, massa membubarkan diri sambil tetap membentangkan spanduk dan memenuhi Jalan RE Martadinata.

Penulis: Sugiyono
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved