Breaking News:

Kementerian ESDM Cari Sumur Peninggalan Belanda di Lokasi Semburan Minyak Kutisari Surabaya

Tujuan survey untuk melihat apakah ada suatu benda di dalam tanah, misal sumur atau well head. Maksudnya, ada sumur peninggalan Belanda atau tidak.

tribun jatim/yusron naufal putra
Lumpur bercampur minyak yang menyembur di kawasan Kutisari, Surabaya. 

SURYA.co.id, SURABAYA - Tim geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia melakukan survey georadar di semburan minyak Kutisari, Jumat (4/10/2019).

Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kulaitas Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Ulfiani Ekasari, mengatakan survey georadar dilakukan di tiga lokasi, yakni Kutisari Indah Utara 2, 3 dan 4.

"Survey georadar dilakukan di dua lintasan, Kutisari Indah Utara 2 dan 4. Tanggal 3 Oktober, dilakukan di Kutisari 3," ucapnya.

Menurut Ulfi, survey dilakukan untuk melihat apakah ada sumur di bawah tanah Kutisari, sehingga bisa muncul semburan minyak.

"Tujuan survey untuk melihat apakah ada suatu benda di dalam tanah, misal sumur atau well head. Maksudnya, ada sumur peninggalan Belanda atau tidak," paparnya.

Namun, untuk memastikan penyebab semburan, diperlukan uji lanjutan, satu di antaranya dengan uji geolistrik.

Sementara itu, hasil uji cairan yang keluar dari semburan tidak asam.

Bila asam, kata Ulfi, menunjukkan adanya gas H2S, alias hidrogen sulfida, yang terjebak.

Gas ini sangat beracun dan mematikan karena dapat melumpuhkan sistem pernapasan, bahkan menyebabkan kematian.

"Hasil uji cairan yang keluar dari semburan hasilnya adalah pH antara 8-9. Jadi tidak asam. Dikatakan asam bila pH-nya di bawah 6," jelas Ulfi.

Untuk parameter lainnya, Ulfi berharap masyarakat dapat menunggu terlebih dahulu, karena tim peneliti masih terus menghitung hasil dan perlu melakukan tes-tes lebih lanjut.

Sebelumnya, minyak mentah yang menyerupai lumpur menyembur dari halaman sebuah rumah di Jalan Kutisari Indah Utara III/19, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya.

Minyak tersebut telah menyembur sejak Senin (23/9/2019), dan sempat dikira lumpur karena warnanya gelap, kental dan baunya menyengat. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved