Berita Surabaya

Kemenperin Dorong Peningkatan Penggunaan EBT Untuk Listrik, Agriculture dan Perkebunan

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin Zakiyudin saat berada pameran Industrial Energy, Power

Kemenperin Dorong Peningkatan Penggunaan EBT Untuk Listrik, Agriculture dan Perkebunan
Istimewa
Zakiyudin, Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin Zakiyudin saat berada pameran Industrial Energy, Powermax, dan Smart Agri 2019 di Grand City Convention and Exhibition Hall. 

SURYA.CO.ID |SURABAYA - Pemerintah melalui Kementerian Industri merencanakan untuk meningkatkan penggunaan EBT (Energi Baru Terbarukan) untuk listrik pada tahun 2025.

Berdasar data dari Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI), potensi EBT telah berjalan maksimal, tercatat ada peningkatan dari 11,98 persen pada tahun 2018 lalu menjadi 12,88 persen di triwulan I 2019.

"Selain industri EBT, kami bersama dengan Kementerian Pertanian juga memamerkan inovasi produk yang berhubungan dengan industri agrikultural serta perkebunan yang mencakup hulu hingga hilirisasi," jelas Zakiyudin, Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin Zakiyudin saat ditemui pada pameran Industrial Energy, Powermax, dan Smart Agri 2019 di Grand City Convention and Exhibition Hall.

Seperti drone tanam sebar benih padi milik Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian).

Berukuran besar dengan kapasitas tangki 20 liter dan 15 kilogram benih, inovasi tersebut bakal melakukan pertanaman tanaman padi dengan metode sebar.

“Melihat banyaknya inovasi produk yang dipamerkan, kami optimistis sektor industri di Indonesia akan terus berkembang. Apalagi dari bahan baku maupun sumber daya manusianya kita tak kalah dengan negara lain,” ungkap Zakiyudin.

Saat ini pihaknya bakal terus mendorong inovasi terkait pada bidang industri. “Kami lihat jika dari aspek komersialnya punya potensi, maka baru disiapkan dari aspek standarnya. Sehingga nanti kalau diproduksi masal sudah ada acuan, baik dari sisi kualitas, bahan baku, dimensi, dan sebagainya,” jelas Zakiyudin.

Selain itu pada salah satu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang meyebut jika lembaga-lembaga riset dapat bekerja sama dengan pelaku industri.

“Harapannya peneliti dari lembaga riset akan mendapat royalti sehingga hal tersebut dapat semakin merangsang peneliti untuk terus mengembangkan produk,” tambahnya.

Khusus untuk pembangunan proyek ketenagalistrikan, Kemenperin juga melakukan penguatan sumber daya manusia melalui penguatan vokasi industri, pendalaman struktur industri melalui penguatan rantai nilai industri, hingga melakukan pengembangan perwilayahan industri.

Hingga saat ini, Zakiyudin mencatat ada tujuh kawasan industri telah beroperasional dan 13 kawasan dalam tahap proses penyiapan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Untuk menyelesaikan proyek tersebut, kami juga bersinergi dengan bidang-bidang lainnya. Seperti industri energi baru terbarukan (EBT), migas, pertambangan, dan manufaktur otomatisasi serta fasilitas-fasilitasnya.

Apalagi selama ini akselerasi pembangunan ketenagalistrikan begitu masif untuk mewujudkan Indonesia Terang,” tandasnya.(rie/Sri Handi Lestari).

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved