Breaking News:

Pengakuan Perantau Jatim di Papua. Puluhan Tahun Kumpulkan Harta Benda, Ludes Dalam Satu Kerusuhan

Rumahnya yang ia tinggali bersama enam orang rekan dan keluarganya dibakar massa. Seluruh barang barangnya di rumah tersebut ludes terbakar

surabaya.tribunnews.com/hayu yudha prabowo
Pengungsi Wamena Papua asal Jawa Timur saat tiba menggunakan pesawat hercules di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Rahu (2/10/2019). Sebanyak 120 pengungsi wamena asal jawa timur tiba di Malang untuk kembali ke daerah asal paska kerusuhan di Wamena yang mengakibatkan 33 orang tewas. 

SURYA.co.id | MALANG - Para perantau Jatim di Papua akhirnya mendarat di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, dengan menumpang pesawat Hercules, Rabu (2/10/2019).

Satik, salah satu warga Jawa Timur asal Banyuwangi yang 29 merantau di Wamena bersyukur akhirnya bisa tiba di tanah Jawa. Pasalnya setelah kerusuhan Wamena membuatnya trauma dan bangkrut.

Rumahnya yang ia tinggali bersama enam orang rekan dan keluarganya dibakar massa. Seluruh barang barangnya di rumah tersebut ludes terbakar oleh amukan massa.

"Habis semua barang-barang, rumah kami dibakar oleh massa," kata Satik dengan air mata menggenang.

Ia sendiri baru sekitar dua bulan pindah berdagang di Wamena. Ia bergabung dengan saudaranya yang sudah lebih dulu di Wamena. Namun ternyata kondisi yang terjadi di Wamena membuat apa yang ia usahakan akhirnya hangus habis terbakar.

"Ya mau bagaimana lagi. Kami hanya membuka kios di sana. Kalau sudah begini habis sudah," ucapnya.

Saat kerusuhan terjadi, ia menyebut bahwa suasananya chaos dan mengerikan. Warga berkelompok dan saling mencari perlindungan di tempat yang aman. Ada yang bersembunyi di kantor kecamatan, di puskesmas, dan juga sembunyi di gedung-gedung.

"Saat kerusuhan semua sudah saling mencari tempat aman. Terpisah-pisah semua," kata Satik.

Ia berharap bisa segera dipulangkan ke kampung halamannya di Banyuwangi. Satik berterima kasih pemerintah segera tanggap melakukan langkah pemulangan.

Hal senada juga disampaikan oleh Yusuf, warga Jatim asal Probolinggo. Selama tiga tahun ini ia bekerja sebagai kuli bangunan di Wamena. Yusuf mengaku saat kerusuhan tempatnya bukan menjadi titik utama. Namun chaos di wilayah Pasar Baru juga terjadi, kampung tempatnya adalah ujungnya kerusuhan di Wamena.

"Saya terpisah dengan anak saya. Kan saat terjadi kerusuhan jamnya anak-anak belajar. Baru ketemu jam 21.00 malam, ada yang mengamankan. Itu perasaan saya sudah tidak karuan," kata Yusuf.

Yusuf berserta istri dan dua anaknya mengaku lega akhirnya bisa sampai di Jawa dan segera akan pulang ke kampung halaman. Menurutnya ke depan ia masih berpikir apakah mau kembali atau tidak. Trauma melihat banyak korban membuatnya takut kembali ke Papua.

"Masih banyak teman-teman kami yang belum dipulangkan. Saya harap yang lain segera menyusul kembali ke Jawa," katanya.

Sebanyak 120 warga Jawa Timur yang baru saja tiba tersebut dibawa ke kantor Bakorwil Malang untuk dilakukan pendataan. Mereka didata lengkap untuk kemudian dipulangkan ke daerahnya masing-masing oleh Pemprov Jawa Timur.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved