Berita Jember

Terpilih Jadi Pimpinan KPK, Nurul Ghufron 'Mundur Teratur' dari Ajang Kontestasi Pilrek Unej

"Karena dalam tahapan Pilrek ini memang tidak ada aturan untuk mengundurkan diri. Karenanya, saya meminta para senat memilih yang lain," katanya.

Terpilih Jadi Pimpinan KPK, Nurul Ghufron 'Mundur Teratur' dari Ajang Kontestasi Pilrek Unej
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Komisioner KPK terpilih Nurul Ghufron saat di acara penyampaian visi dan misi Bacarek Unej, Selasa (1/10/2019) 

SURYA.co.id | JEMBER - Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terpilih, Nurul Ghufron, 'mundur alon-alon' alias mundur perlahan dari kontestasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Jember (Unej).

Ghufron, panggilan akrab Nurul Ghufron, memang tidak secara tegas menyatakan mundur sebagai bakal calon rektor (Bacarek) Unej. Dia hanya meminta para senat universitas Jember tidak memilihnya. Dia meminta supaya para senat universitas memilih calon rektor dari Bacarek yang lain.

Hal ini ditegaskan oleh Ghufron saat menyampaikan visi dan misi Bacarek Unej di hadapan senat universitas dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Jember terkait Pilrek di Gedung Soetardjo Unej, Selasa (1/10/2019).

"Saya meminta para senat universitas untuk tidak memilih saya. Namun memilih orang-orang di belakang saya," ujar Ghufron.

Pernyataan ini disampaikan Ghufron saat berdiri di podium di hadapan senat universitas dan civitas akademika Unej.

Ghufron mendapatkan urutan keempat dalam penyampaian visi dan misi, sesuai dengan nomor urut Bacarek yang didapatnya.

"Karena dalam tahapan Pilrek ini memang tidak ada aturan untuk mengundurkan diri. Karenanya, saya meminta para senat memilih yang lain. Pasti sudah tahu alasan saya," imbuhnya.

Setelah meminta para senat untuk tidak memilihnya, Ghufron turun podium. Dia tidak menjabarkan visi dan misinya. Dekan Fakultas Hukum Unej itu juga turun dari kursi yang diduduki oleh para Bacarek Unej.

Akhirnya hanya tersisa tujuh orang Bacarek yang menduduki deretan kursi Bacarek. Ketujuh orang itu adalah Dafik, Djoko Poernomo, Agus Luthfi, Zulfikar, Iwan Taruna, Bambang Sujanarko, I Dewa Ayu Susilawati. Awalnya bersama Nurul Ghufron, ada delapan orang Bacarek yang sedianya menyampaikan visi dan misi.

Karena Ghufron 'mundur', akhirnya tersisa tujuh orang Bacarek. Ketujuh orang Bacarek itu, menyampaikan visi dan misi secara berurutan. Mereka juga menjawab pertanyaan dari para senat, dan civitas akademika.

Penyampaian visi dan misi Bacarek Unej dilakukan secara terbuka. Setelah visi dan misi, senat universitas memilih tiga orang sebagai Carek Unej. Pemilihan suara dilakukan secara tertutup.

Seperti diberitakan, Nurul Ghufron terpilih menjadi komisioner KPK periode 2019 - 2024. Lima komisioner KPK itu dipilih oleh Komisi III DPR RI, berdasarkan 10 nama Capim yang disodorkan Presiden Joko Widodo. Ghufron lolos bersama empat orang lainnya.

Sementara itu, Ghufron juga mengikuti pendaftaran Pilrek Unej. Namun karena Desember 2019 nanti, dia dilantik sebagai komisioner KPK, maka dia meminta para senat universitas untuk tidak memilihnya.

Kepada Surya, Ghufron mengatakan, pelantikan komisioner KPK akan dilakukan Desember 2019 mendatang. UU KPK yang menyebut, komisioner KPK minimal berusia 50 tahun disebutnya tidak berlaku surut. Karenanya, meskipun dia berusia 45 tahun, UU itu tidak bakal berlaku.

"Aturan itu tidak berlaku surut. Namun apapun nanti yang dikatakan oleh UU, tentunya saya akan mematuhinya," pungkas Ghufron.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved