Berita Pasuruan

Operasi Sikat Semeru 2019, Polres Pasuruan Raih Peringkat 3 Terbaik se-Jatim

Polres Pasuruan menjadi nomor tiga terbaik di jajaran Polres se-Polda Jawa Timur dalam ungkap kasus selama Operasi Sikat Semeru 2019

Operasi Sikat Semeru 2019, Polres Pasuruan Raih Peringkat 3 Terbaik se-Jatim
surya/galih lintartika
Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan, saat merilis hasil ungkap kasus selama Operasi Sikat Semeru 2019. 

SURYA.co.id | PASURUAN – Polres Pasuruan menjadi nomor tiga terbaik di jajaran Polres se-Polda Jawa Timur dalam ungkap kasus selama Operasi Sikat Semeru 2019. Operasi ini lebih menekankan ungkap kasus curas, curat dan curanmor.

Polres Pasuruan masuk tiga besar setelah Polres Malang di peringkat kedua dan Polrestabes Surabaya di peringkat pertama. Selama Operasi Sikat Semeru, Polres Pasuruan mengungkap 164 kasus yang menjadi atensi.

Ada 64 tersangka yang berhasil diamankan, dan puluhan barang bukti aksi kejahatan, mulai sepeda motor, sepeda angin, handphone, uang tunai, dan masih banyak lagi. Bahkan, yang menjadi TO, berhasil diringkus Polres Pasuruan.

Selain itu, tersangka jalanan yang kerap beraksi dan menjadi buronan selama ini pun berhasil diamankan.

Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan, berkomitmen untuk memberikan yang terbaik selama dinas di Pasuruan, termasuk dalam pengungkapan kasus kriminal ini.

Ia berjanji, kasus kriminal, terutama kasus kejahatan jalanan ini akan terus diberantas dan dituntaskan.

“Tapi, perlu disadari, kasus tindak pidana kejahatan ini bisa terjadi karena ada faktor yang memengaruhinya. Nah, pengungkapan kasus dan penangkapan tersangka ini adalah tindakan represif. Justru, di sini, ada sebuah proses yang gagal,” kata dia.

Rofiq menambahkan penegakan hukum atau tindakan represif ini merupakan langkah terakhir, setelah proses pencegahan gagal dilakukan.

Ia justru tidak ingin selalu mengedepankan proses represif.

Ia ingin mengedepankan proses pencegahan.

"Tapi, dalam proses pencegahan ini, bukan hanya tanggung jawab polisi, tapi tanggung jawab semuanya. Semua stakeholder harus terlibat di dalamnya. Misal, ada orang parkir sepeda motor sembarangan tanpa dikunci dan diletakkan di pinggir jalan. Upaya pencegahannya, kita semua harus bisa menjadi polisi bagi diri sendiri dan orang lain. Minimal diingatkan pemilik sepeda itu untuk parkir di tempatnya, jangan sepeda sudah hilang baru disalahkan pemiliknya,” jelasnya.

Mantan Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Jawa Timur ini menguraikan, yang dia maksud adalah kesadaran dari warga untuk selalu waspada dan hati–hati di mana saja.

Jangan baru menjadi korban kejahatan, menyalahkan diri sendiri atau bahkan orang lain.

“Makanya, ke depan, saya ingin ada forum komunikasi atau semacam diskusi ini untuk mencegah terjadinya tindak pidana kejahatan. Saya ingin semua pihak bisa berkomitmen dan bergandengan tangan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Tapi, kami juga berkomitmen , semisal sudah ada kejadian kejahatan, kami akan mengungkapnya,” paparnya.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved