Citizen Reporter

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Gedung UNESCO, 125 Avenue de Suffren Paris

Sekitar 800 pengunjung memenuhi gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris. Pengujung bukan hanya warga Indonesia yang tinggal di Paris, melainkan

Menikmati Ragam Budaya Indonesia di Gedung UNESCO, 125 Avenue de Suffren Paris
ist/citizen reporter
Penampilan budaya Indonesia di Gedung UNESCO di 125 Avenue de Suffren, Paris 

Tampil dengan Gendang Belek atau Manuk Belage adalah musik traditional dari Suku Sasak. Gendang Belek didominasi permainan dua drum besar diikuti dengan instrumen musik yang lain seperti gong dan seruling. Permainan musik itu untuk menyemangati para pejuang yang bertempur atau untuk memeriahkan sebuah kemenangan.

Dari Nusa Tenggara Barat, penonton diajak kembali ke tanah Jawa, tepatnya Jawa Barat. Tari Jaipong yang sensual dan mulai dikenal pada 1970-an ditampilkan. Penari Jaipong kali itu menari dengan harimau (maung, dalam bahasa Sunda) lewat Tari Maung Lugay, tarian yang mengisahkan kemarahan harimau atas kerusakan rumahnya.

Selain sebagai olah raga, pencak silat menjadi bagian dari seni dan bagian dari peran utama musik dan tarian lewat teknik bertarung menggunakan senjata tajam seperti trisula. Penampilan grup KONSTRAD dari Jawa Barat itu mengakhiri perjalanan di Jawa Barat.

Tujuan akhir dari traveling budaya itu adalah Bali. Penonton diajak menikmati gamelan Bali yang mistis sekaligus indah. Musik karya AA Bagus Krishna Sutedja, komponis asal Bali yang berjudul Narasimha khusus untuk grup Puspawarna Paris. Gaya musik Narasimha menjadi bagian dari alunan musik untuk tarian Barong.

Empat penari berpakaian putih menyerupai kostum Tari Barong dan bertopeng putih tampil di puncak acara. Teklek, tarian yang sakral, sering ditampilkan untuk acara tertentu seperti menyucikan bangunan yang rusak, melindungi desa dari bahaya atau sakit, atau menghalau setan. Tarian Teklek merupakan tarian klasik Bali yang ditarikan di istana.

Dua jam mengunjungi Indonesia dengan kekayaan budayanya memang tidak cukup. Akan tetapi, rasa bangga sangat terasa saat tepuk tangan menggema di seluruh ruangan tanpa henti saat pemimpin grup, penari, pemain musik tampil di ujung acara. Kekayaan akan budaya Indonesia akan menjadi warisan budaya bangsa Indonesia sekaligus menjadi warisan budaya dunia.

Helene Koloway
Ibu Rumah Tangga, Penulis yang bermukim di Paris
https://helenekoloway.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved